Jakarta, CNN Indonesia --
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur menyiagakan armada unik berjulukan mobil 'ajag-ijig' guna mempermudah mobilitas jemaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas.
Fasilitas ini disiagakan secara penuh menyusul tibanya golongan terbang (kloter) tiga asal Jakarta Barat pada Rabu siang, nan tercatat membawa 83 jemaah lansia serta tiga jemaah berkebutuhan unik (special needs).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memastikan kenyamanan dan keamanan golongan rentan tersebut selama beranjak tempat di area pondok nan luasnya mencapai 16 hektare itu, panitia telah membagi peruntukan armada secara spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing jemaah.
"Salah satunya mobil ajag-ijig itu kita bagi, ada 3 kriteria ya. nan ajag-ijig itu unik untuk perempuan, nan ajag-ijig khusus juga untuk lansia, dan ada mobil Hiace nan kita khususkan untuk disabilitas nan mereka menggunakan bangku sehingga kursinya bisa masuk di dalam mobil," ujar Kepala UPT Asrama Haji Pondok Gede, Muhammad Ali Zakiyudin, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (22/4).
"Khusus untuk nan bis, dua bis 3/4 itu digunakan untuk jemaah-jemaah nan lain nan tidak masuk dalam kategori 3 perihal itu," sambungnya.
Langkah afirmatif bagi golongan prioritas ini tidak hanya diwujudkan melalui kemudahan transportasi antargedung.
Fast-track
Pihak embarkasi juga telah mengantisipasi kondisi kelelahan bentuk para jemaah sejak mereka turun dari bus dengan menyediakan puluhan perangkat bantu mobilitas nan terhubung langsung dengan jasa jalur sigap (fast-track) saat proses pemberkasan.
"Yang untuk lansianya untuk nan mereka memerlukan untuk bangku roda, kita siapkan persediaan bangku roda 20 di depan itu nan dipakai ketika dia butuhkan. Kemudian kita bakal antarkan ke serbaguna ini, kita tempatkan mereka di fast-track untuk lansia, kursi-kursi nan prioritas itu nan bakal dipakai," kata Ali.
Meski jemaah lansia dan disabilitas mendapatkan perlakuan spesial dalam urusan kenyamanan manajemen dan pembagian duit saku (living cost), tahapan pemeriksaan medis tetap bertindak tegas bagi keseluruhan jemaah haji.
Mereka--semuanya--menjalani observasi akhir dari poliklinik pondok nan nantinya bakal menjadi tiket penentu kepantasan mereka untuk terbang ke Tanah Suci.
"Untuk sementara sekarang tetap proses kesehatan. Jadi penentuan kelak ada di kesehatan. Kalau kesehatan hanya sakit-sakit ringan alias mungkin rujukan ringan nan bisa kemungkinan kelak digabungkan waktu keberangkatan, nah itu nan bakal menentukan. Jadi untuk sekarang tetap proses kesehatan," ucap Ali.
Di luar prosedur kesehatan, Ali kemudian menjelaskan kelancaran fase skrining koper jemaah. Menurutnya edukasi nan masif di tingkat wilayah sukses membikin jemaah tertib dan tidak lagi membawa barang-barang terlarang ke dalam koper.
"Alhamdulillah untuk skrining awal lantaran mungkin sosialisasinya ke wilayah sudah mulai masif, dan dibantu oleh temen-temen media juga, mengenai dengan bawaan nan dilarang dan juga batas maksimal bawaan, sehingga jemaah sudah bisa menyadari untuk bisa memenuhi koper-kopernya sesuai dengan ketentuan," ujar Ali.
Akses family jemaah dibatasi
Selain itu, PPIH menerapkan pembatasan wilayah secara tegas bagi family pengantar di pondok haji tersbeut.
Rombongan pengantar dan kerabat jemaah hanya diizinkan berada maksimal hingga pemisah area Parkir Timur asrama.
"Setelah di parkir timur kelak bisa masuk ke SG2 ini sesuai dengan pintu nan disiapkan unik untuk para jemaah saja dan peralatan bawaanya," ujar Ali.
Sesuai jadwal, jika jemaah kloter tiga ini dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan tanpa kendala, mereka bakal diberangkatkan menuju airport lima jam sebelum lepas landas.
Pesawat tersebut direncanakan bertolak menuju Tanah Suci pada Kamis (23/4) siang pukul 12.25 WIB.
(kna/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·