Ngeri-ngeri Sedap! CEO Microsoft AI Prediksi Setahun Lagi Pekerjaan Kantoran Hilang?

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

loading...

CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman memprediksi kebanyakan pekerjaan kantoran bakal terotomatisasi AI dalam 12–18 bulan ke depan. Foto: Wikipedia

JAKARTA - Prediksi CEO Microsoft AI bahwa sebagian besar pekerjaan white-collar bakal terotomatisasi dalam 12–18 bulan memicu perdebatan dunia tentang masa depan tenaga kerja dan stabilitas ekonomi.

Kecerdasan buatan kembali menjadi pusat perhatian setelah Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI, menyatakan bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, sebagian besar—bahkan nyaris seluruh—tugas ahli di sektor white-collar dapat diotomatisasi oleh AI.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Suleyman mengatakan bahwa AI bakal mencapai “human-level performance” untuk kebanyakan tugas profesional.

“Saya pikir kita bakal mencapai performa setingkat manusia pada sebagian besar, jika bukan seluruh, tugas profesional,” ujarnya. “Pekerjaan white-collar, di mana Anda duduk di depan komputer sebagai akuntan, manajer proyek, alias staf pemasaran—sebagian besar tugas tersebut bakal sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12 hingga 18 bulan.”

Pernyataan ini bukan sekadar opini optimistis. Ia mencerminkan tren percepatan integrasi AI di lingkungan kerja, terutama pada sektor teknologi.

Suleyman menyoroti bagian rekayasa perangkat lunak sebagai contoh konkret. Menurutnya, sebagian besar produksi kode sekarang sudah dibantu AI. “AI-assisted coding sekarang digunakan untuk kebanyakan produksi kode,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan relasi manusia dan teknologi ini terjadi hanya dalam enam bulan terakhir.

Microsoft sendiri menjadi pemain utama dalam gelombang ini. Perusahaan mengembangkan Copilot, berinvestasi miliaran dolar AS di OpenAI dan Anthropic, serta mengintegrasikan AI ke dalam beragam produk perkantoran.

Dalam lima tahun terakhir, AI berkembang pesat. Namun kemajuan ini juga membawa konsekuensi. Laporan terbaru menyebut munculnya kejadian “AI fatigue” di kalangan software engineer: produktivitas meningkat, tetapi ekspektasi kerja ikut melonjak, memicu kelelahan.

Ancaman Pengangguran Massal?

Pernyataan Suleyman sejalan dengan sejumlah tokoh AI lainnya.

Stuart Russell, intelektual komputer dan salah satu penulis kitab AI paling otoritatif di dunia, menyebut para pemimpin politik tengah mempertimbangkan kemungkinan “80 persen pengangguran” akibat AI.

Menurutnya, pekerjaan mulai dari mahir bedah hingga CEO berisiko terdampak.

Dario Amodei, CEO dan co-founder Anthropic, apalagi menyatakan bahwa AI berpotensi menghapus separuh dari pekerjaan white-collar entry-level.

“Kami sebagai kreator teknologi ini punya tanggungjawab untuk jujur tentang apa nan bakal datang,” kata Amodei. “Saya rasa ini belum betul-betul masuk radar banyak orang.”

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews