Awaludin
, Jurnalis-Sabtu, 31 Januari 2026 |08:44 WIB

Presiden Prabowo (foto: okezone)
JAKARTA - Gejolak geopolitik dunia kian mengarah pada eskalasi bentrok terbuka seiring menguatnya unilateralisme negara-negara besar. Dalam situasi bumi nan semakin tidak pasti, Indonesia dinilai kudu memperkuat kesiapan pertahanan dan persatuan nasional jika mau tetap menjaga perdamaian.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Focus GREAT Discussion (FGD) berjudul “Amerika Era Donald Trump dan Gejolak Geopolitik Multiblok di Ambang Perang” nan digelar GREAT Institute.
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa menegaskan, pentingnya prinsip inclusive security dalam menghadapi bumi nan semakin multipolar dan sarat konflik.
"Kita tidak boleh lagi menggantungkan pertahanan kepada negara nan lebih kuat, apalagi jika kekuatan itu digunakan untuk memaksakan kehendak kepada negara lain. Kasus Venezuela menunjukkan gimana kedaulatan negara bisa dilanggar, apalagi sampai pada penculikan presidennya," ujar Teguh, Sabtu (31/1/2026).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI), Rizal Darma Putera menilai keberanian Presiden Trump memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak lepas dari karakter kebijakan luar negeri nan sangat personalistik.
“Margaret Hermann menyebutnya sebagai aspek idiosyncratic nan dipengaruhi kepribadian pemimpin, sementara Robert Jervis melihatnya sebagai aspek persepsi. Namun kejadian ini bukan hanya Trump. Pendekatan personalistik juga terlihat pada Vladimir Putin di Rusia, Xi Jinping di Tiongkok, apalagi Presiden Prabowo,” ungkap Rizal.
6 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·