Paradoks Pendidikan: Sekolah Ada Kesempatan Tidak Merata

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi koper jejak diubah menkadi scholar panel di sekolah dasar. Foto: Dok. Istimewa

Di banyak desa, sekolah berdiri cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Anak-anak berangkat pagi menggunakan seragam, membawa tas, dan pulang menjelang siang seperti gambaran pendidikan pada umumnya. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Negara seolah telah datang melalui gedung sekolah nan berdiri di tengah kampung. Namun jika diperhatikan lebih jauh, ada realita nan sering luput dibicarakan: tidak semua anak desa betul-betul mempunyai kesempatan pendidikan nan sama.

Inilah paradoks pendidikan pedesaan hari ini. Sekolah memang ada, tetapi kesempatan untuk berkembang melalui pendidikan tetap terasa sangat jauh bagi sebagian remaja desa.Banyak anak desa tumbuh dengan mimpi nan sederhana. Mereka mau kuliah, mau mengubah nasib keluarga, alias sekadar mau membuktikan bahwa anak kampung juga bisa bersaing. Akan tetapi, mimpi-mimpi itu sering kali kudu berhadapan dengan realita ekonomi. Di saat anak kota sibuk memilih universitas, sebagian remaja desa justru sibuk memikirkan gimana membantu orang tua bekerja setelah lulus sekolah. Pendidikan akhirnya kalah oleh kebutuhan hidup nan mendesak.

Ironisnya, semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun justru kemiskinan itulah nan membikin banyak anak desa susah melanjutkan pendidikan. Mereka diajarkan untuk bermimpi tinggi, tetapi tidak diberi tangga nan cukup untuk mencapainya.

Selain persoalan ekonomi, remaja desa juga sering tumbuh dalam keterbatasan akses informasi. Banyak nan tidak mengetahui jalur beasiswa, kesempatan kuliah, alias langkah mengembangkan potensi diri. Tidak sedikit pula nan merasa minder terlebih dulu sebelum mencoba, lantaran sejak awal telah terbentuk dugaan bahwa perguruan tinggi hanya milik mereka nan hidup berkecukupan.

Keadaan ini diperparah oleh lingkungan sosial nan lebih menekankan “cepat bekerja” dibanding “melanjutkan pendidikan.” Dalam beberapa kondisi, anak nan bekerja setelah lulus dianggap lebih realistis dibanding anak nan memilih kuliah. Akibatnya, pendidikan tinggi perlahan kehilangan nilai krusial dalam pandangan sebagian masyarakat pedesaan.

Padahal persoalannya bukan lantaran anak desa tidak mempunyai kemampuan. Banyak dari mereka mempunyai kecerdasan, semangat, dan daya juang nan besar. Namun keahlian saja tidak cukup ketika fasilitas, akses, dan kesempatan belum sepenuhnya berpihak kepada mereka.

Kita sering membanggakan pendidikan sebagai kewenangan seluruh penduduk negara, tetapi realitasnya kualitas kesempatan tetap ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan. Anak nan lahir di kota mempunyai akses internet lebih baik, lingkungan akademik nan mendukung, serta info pendidikan nan lebih luas. Sementara itu, sebagian anak desa tetap kudu berjuang dengan keterbatasan akomodasi belajar dan minimnya support pendidikan.

Pada akhirnya, pendidikan di pedesaan bukan hanya soal ada alias tidaknya sekolah. Persoalan utamanya adalah apakah setiap anak betul-betul diberi kesempatan nan setara untuk berkembang dan mencapai masa depan nan lebih baik.

Jika pendidikan memang menjadi perangkat untuk menciptakan keadilan sosial, maka ketimpangan pendidikan di desa semestinya menjadi perhatian serius bersama. Sebab selama kesempatan tetap tidak merata, pendidikan belum sepenuhnya menjadi jembatan menuju perubahan, melainkan hanya menjadi simbol bahwa negara telah “menyediakan,” meski belum betul-betul “menghadirkan” keadilan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan