Paus Leo XIV.(Al Jazeera)
PEMIMPIN Gereja Katolik, Paus Leo, mengeluarkan peringatan keras terhadap penggunaan kepercayaan sebagai perangkat untuk membenarkan kekerasan. Pernyataan ini dinilai sebagai teguran terselubung terhadap retorika pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengenai perang nan sedang berjalan dengan Iran.
"Tanpa perubahan arah dalam pengambilan tanggung jawab politik, dan tanpa menghormati lembaga serta perjanjian internasional, nasib umat manusia berisiko terancam secara tragis," ujar Paus kelahiran Amerika tersebut pada Selasa (21/4).
Paus menegaskan bahwa nama Tuhan tidak boleh dinodai oleh ambisi kekuasaan alias diskriminasi. "Tuhan tidak menginginkan ini. Di atas segalanya, nama-Nya tidak boleh pernah digunakan untuk membenarkan pilihan dan tindakan nan menyebabkan kematian," lanjutnya.
Retorika Keagamaan di Pentagon
Ketegangan antara Vatikan dan Gedung Putih meningkat setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, berulang kali membawa narasi Kekristenan dalam konteks militer. Pada Maret lalu, Hegseth mengeklaim bahwa Tuhan berpihak pada AS dalam bentrok melawan Iran.
Dalam kebaktian angan di Pentagon, Hegseth apalagi memohon agar setiap peluru mengenai sasaran dan meminta agar jiwa-jiwa jahat musuh diserahkan kepada kutukan kekal. Ia juga sempat mengkritik wartawan dengan membandingkan mereka sebagai golongan orang Farisi dari Perjanjian Baru.
Komentar tersebut memicu kecaman dari mahir konstitusi nan menganggapnya sebagai pelanggaran pemisah antara gereja dan negara. Bahkan tokoh media sayap kanan, Steve Bannon, menyarankan agar Pentagon lebih konsentrasi pada pengarahan militer daripada referensi Alkitabiah.
Perselisihan Vatikan dan Gedung Putih
Hubungan diplomatik antara Vatikan dan Washington kian memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam sepanjang 334 kata terhadap Paus Leo. Trump menyebut Paus jelek untuk kebijakan luar negeri dan menuduhnya mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Klaim itu tidak pernah dinyatakan oleh Paus.
Respons Paus Leo:
Menanggapi tekanan dari Gedung Putih dan peringatan Wakil Presiden JD Vance agar berhati-hati dalam masalah teologi, Paus Leo menegaskan posisinya.
"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbincang lantang tentang pesan Injil. Itu tugas saya dan tugas Gereja di sini," tegas Uskup Roma tersebut.
Paus sebelumnya juga mengecam ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban di Iran sebagai tindakan nan betul-betul tidak dapat diterima. Melalui platform X, dia menuliskan bahwa Tuhan menolak angan orang-orang nan mengobarkan peperangan.
Di tengah eskalasi retorika ini, sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa kebanyakan penduduk Amerika Serikat sebenarnya menentang keterlibatan lebih jauh dalam perang dengan Iran. Ini mencerminkan lembah pemisah antara kebijakan pemerintah dan aspirasi publik. (The Independent/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·