Paus Leo XIV.(Al Jazeera)
PEMIMPIN tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, melontarkan kritik tajam terhadap eskalasi retorika Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa ancaman nan dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap rakyat Iran adalah tindakan nan tidak bisa diterima.
"Hari ini, seperti nan kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini betul-betul tidak dapat diterima!" tegas Paus Leo XIV kepada wartawan di luar Roma, Selasa (7/4), sebagaimana dikutip oleh Takhta Suci.
Paus asal Amerika tersebut menyoroti bahwa krisis ini bukan sekadar persoalan politik, melainkan krisis kemanusiaan nan mendalam. "Tentu ada masalah norma internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini pertanyaan moral nan menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan," ujarnya.
Peringatan Dampak Ekonomi dan Energi
Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa bentrok bersenjata di Timur Tengah tidak bakal pernah menjadi solusi. Sebaliknya, peperangan hanya bakal memicu krisis ekonomi dunia dan gangguan daya nan merugikan masyarakat luas, termasuk perubahan nilai tukar mata uang dan komoditas krusial lain.
Ia mendesak pihak-pihak nan bentrok untuk segera kembali ke meja perundingan. Paus juga memberikan peringatan keras bahwa serangan nan menyasar prasarana sipil merupakan pelanggaran nyata terhadap norma internasional.
"Mari kita ingat, terutama, orang-orang nan tidak bersalah: anak-anak, orang tua, orang sakit. Begitu banyak orang nan telah menjadi, alias bakal menjadi, korban dari peperangan nan terus bersambung ini," tutur Paus dengan nada prihatin.
Konteks Ultimatum AS:
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menakut-nakuti bakal menghancurkan seluruh peradaban Iran. Washington memberikan tenggat waktu hingga Rabu pukul 07.00 WIB bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika gagal, AS menakut-nakuti bakal mengebom prasarana strategis seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Eskalasi Menuju Zaman Batu
Ketegangan ini diperparah oleh pernyataan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, nan memperingatkan bahwa Iran bisa kembali ke Zaman Batu jika tidak segera mencapai kesepakatan sesuai pemisah waktu nan ditentukan.
Konflik terbaru ini dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, nan awalnya diklaim untuk menekan program nuklir Teheran. Namun, perkembangan situasi menunjukkan adanya upaya untuk mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Paus Leo XIV menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa serangan terhadap akomodasi sipil adalah tanda kebencian dan perpecahan. "Itu adalah tanda kehancuran nan bisa dilakukan manusia," pungkasnya. (Sputnik/RIA Novosti/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·