Presiden AS Donald Trump(AFP)
SEJUMLAH pemimpin di area Asia menyambut positif pengumuman gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, mereka menekankan perlunya langkah lanjutan agar kesepakatan tersebut dapat berkembang menjadi solusi tenteram nan lebih luas di area Timur Tengah.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyebut kesepakatan tersebut sebagai perkembangan positif, merujuk pada rencana 10 poin nan diajukan Iran dan mendapat respons baik dari Washington.
"Usulan ini merupakan pertanda baik bagi pemulihan perdamaian dan stabilitas, tidak hanya di area ini tetapi juga di seluruh dunia," tulisnya di platform X.
Namun, Anwar mengingatkan bahwa upaya perdamaian tidak boleh terbatas pada Iran saja. Ia menilai stabilitas juga kudu mencakup negara-negara seperti Irak, Libanon, dan Yaman, serta menyoroti pentingnya penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza.
Ia juga memuji Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, atas diplomasi nan tak kenal capek dan berani dalam memfasilitasi komunikasi antar pihak.
Di Jepang, Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai langkah positif, sembari menegaskan bahwa de-eskalasi tetap menjadi prioritas utama.
Pemerintah di Tokyo juga berambisi gencatan senjata sementara ini dapat berujung pada kesepakatan tenteram nan permanen.
Dukungan serupa datang dari Australia. Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan bahwa pemerintahnya sejak lama menyerukan penghentian konflik.
"Pemerintah Australia telah menyerukan de-eskalasi dan pengakhiran bentrok untuk beberapa waktu sekarang," ujarnya.
Dia juga mengingatkan akibat luas bentrok terhadap ekonomi global, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz nan memicu lonjakan nilai energi.
"Kami telah menjelaskan bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin signifikan dampaknya terhadap ekonomi global, dan semakin besar pula korban jiwa," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menyambut kesepakatan tersebut sebagai berita nan menggembirakan, namun tetap mengingatkan bahwa tantangan ke depan tetap besar.
"Meskipun ini adalah berita nan menggembirakan, tetap ada pekerjaan krusial nan signifikan nan kudu dilakukan dalam beberapa hari mendatang untuk mengamankan gencatan senjata nan permanen," ujarnya. Ia juga mengapresiasi peran negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir dalam upaya diplomasi.
Dari Korea Selatan, pemerintah menyatakan angan agar kesepakatan ini membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Pemerintah kami menyambut baik kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk gencatan senjata ... dan landasan nan telah diletakkan untuk dimulainya kembali navigasi melalui Selat Hormuz," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Park Il.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa dia sepakat untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi.
Sebelumnya, Washington juga memberi tekanan kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz demi menjaga pasokan daya global.
Selain pemerintah, tokoh regional seperti pemimpin Kashmir, Mirwaiz Umar Farooq, turut menyambut baik perkembangan tersebut. Ia menekankan pentingnya perbincangan dibandingkan konfrontasi.
"Perdamaian mengalahkan perang," ujarnya dikutip Anadolu, Rabu (8/4). (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·