Gambar Mojtaba Khamenei.(Al Jazeera)
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dalam pesan tertulis nan dibacakan di televisi pemerintah pada Kamis (28/5/2026), dia menyatakan bahwa kedua negara tersebut tengah berupaya mendestabilisasi Republik Islam Iran dan memaksa bangsa tersebut untuk bertekuk lutut.
Khamenei menegaskan bahwa strategi musuh saat ini adalah menciptakan perpecahan internal setelah beragam upaya tekanan lain dianggap gagal. Ia menyebut ada rencana sistematis untuk memicu disintegrasi di tengah masyarakat Iran.
"Rencana buta musuh, setelah perang nan dipaksakan, tekanan ekonomi, serta pengepungan politik dan propaganda, adalah menciptakan perpecahan dan disintegrasi," ujar Khamenei dalam pesan tersebut. Menurutnya, langkah ini diambil musuh untuk mengompensasi kekalahan militer mereka.
Konteks Kepemimpinan: Mojtaba Khamenei, 56, naik takhta menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, nan tewas pada 28 Februari 2026 akibat serangan pembuka AS-Israel ke Iran. Peristiwa tersebut menjadi pemicu pecahnya perang skala besar di area Timur Tengah.
Pesan tertulis ini dirilis dalam rangka memperingati hari jadi berdirinya lembaga legislatif nasional Republik Islam Iran. Dalam narasinya, Khamenei menyerukan pentingnya persatuan dan kohesi di antara seluruh rakyat Iran untuk menghadapi ancaman eksternal.
Hingga saat ini, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil di hadapan publik sejak resmi menjabat pada Maret lalu. Ketidakhadirannya secara bentuk terus memicu spekulasi, meskipun pesan-pesan tertulisnya tetap menjadi rujukan utama kebijakan strategis dan ideologis Teheran di tengah kecamuk perang kawasan.
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak awal tahun ini, dengan Iran dan aliansi AS-Israel terlibat dalam konfrontasi militer langsung nan telah mengubah peta geopolitik secara drastis. (AFP/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·