Ilustrasi(Dok Istimewa)
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Depok, Jawa Barat, melakukan pemetaan wilayah rawan banjir dan genangan untuk mengantisipasi potensi musibah saat musim hujan.
Pemetaan ini, sebagai mitigasi awal guna mengamankan warga, menyiagakan personel, serta memperbaiki prasarana drainase maupun tanggul di lokasi-lokasi terdampak.
Lokasi nan masuk dalam pemetaan krusial berada di 11 titik, yakni
- Jalan Mandor Tajir RT 004 RW 18 Pondok Petir, Bojongsari.
- Anak Kali Angke 5 Sawangan.
- Jalan H. Sulaeman RT 005 RW 05 Bedahan,
- Area Saluran Lingkungan Pancoran Mas,
- Jalan Raya Keadilan Rawa Denok RT 002 RW 02 Rangkapan Jaya Baru, Limo
- Jalan Pendowo Grogol Pangkalan Jati.
- Jalan H.Terin, Depan Diklat Kemenkumham, Beji,
- Jalan R.Sanim, Tanah Baru,
- Kali Cabang Tengah RT 005 RW 04, Pondok Jaya,
- Saluran tersier Cilodong,
- RW 30 Kelurahan Sukamaju.
Kepala bagian Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Rizwan Nurahim mengatakan ada 11 letak nan ditetapkan sebagai letak rawan genangan menjadi prioritas penanganan.
Pemetaan titik rawan ini umumnya berfokus pada area bantaran kali. "Permasalahan banjir ini kompleks. Selain aspek cuaca, penyebab utama genangan di kekuasaan oleh sedimentasi dan tumpukan sampah nan memicu penyempitan saluran air," katanya, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, banjir akibat sumbatan sampah terjadi ketika tumpukan limbah menyumbat saluran air, gorong-gorong, alias aliran sungai.
"Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir secara normal dan akhirnya meluap ke permukiman, sampah rumah tangga dan plastik nan dibuang sembarangan menumpuk dan menyempitkan alias menutup total saluran air," ujarnya.
Dari hasil pantauan, Rizwan mengatakan banjir terjadi lantaran air nan tertahan akibat sumbatan meluap naik ke daratan, menyebabkan genangan hingga banjir bandang.
Untuk mencegah masalah ini, Rizwan mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara bijak dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Rizwan mengatakan, 11 letak nan ditetapkan sebagai prioritas, semuanya ditangani melalui normalisasi saluran air nan tersumbat.
Dengan pemetaan wilayah rawan banjir ini, sambung dia diharapkan dapat untuk meminimalkan risiko, dan akibat musibah lantaran berfaedah sebagai dasar mitigasi non-struktural.
Ia menjelaskan, untuk menangani letak rawan banjir, Dinas PUPR mengerahkan beragam sumber daya teknis dan tanggap darurat melalui pengerahan ratusan personel teknis, pompa air mobile, portable, material penanganan darurat (seperti bronjong dan kisdam), serta puluhan perangkat berat seperti ekskavator, dump truck, dan truk crane.
Rizwan mengimbau masyarakat untuk turut serta dalam mitigasi berdikari dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·