Pemprov DKI Jakarta berencana memberantas ikan sapu-sapu dengan langkah memperluas operasi penangkapan ikan tersebut ke seluruh wilayah. Alasannya, sekarang sudah terjadi ledakan populasi ikan sapu-sapu hingga dinilai merusak ekosistem sungai dan menakut-nakuti ikan lokal.
Lantas seperti apa langkah paling efektif dalam mengurangi populasi ikan sapu-sapu?
Ahli Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D, mengatakan metode penangkapan massal dinilai belum cukup efektif untuk mengendalikan ledakan populasi ikan sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu alias dikenal juga dengan nama umum Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis), adalah ikan asing introduksi nan bisa berkembang dengan sangat pesat.
"Ikan sapu-sapu termasuk “a breeding machine” lantaran mempunyai fekunditas (jumlah telur) nan sangat tinggi, bisa mencapai 19,000 telur per satu ekor ikan betina; mereka bisa bereproduksi beberapa kali dalam satu tahun; satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina; ikan jantan menjaga telur (parental care) di dalam liang nan mereka gali sampai menetas sehingga sintasan bisa mencapai lebih dari 90%; bisa bereproduksi pada ukuran nan tetap mini (23,9–28,99 cm untuk jantan; dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus infasi," jelasnya.
Ikan sapu-sapu termasuk ikan omnivora alias pemakan segala dan mempunyai kelenturan (plasticity) dalam memanfaatkan beragam jenis makanan nan ada di perairan.
Menurutnya tidak ada predator alami nan mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta, termasuk di Sungai Ciliwung. Di kediaman asalnya, di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
"Tidak adanya predator spesifik dan efektif di ekosistem non-asli, seperti Sungai Ciliwung di Jakarta, adalah argumen utama kenapa ikan sapu-sapu menjadi jenis asing invasif nan begitu sukses dan susah untuk dikendalikan," kata Charles dalam keterangannya kepada kumparan, dikutip Minggu (12/4).
Ia mengungkapkan bahwa langkah nan paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga dikontrol secara biologis.
“Untuk mengendalikan ledakan populasi ikan sapu-sapu di suatu ekosistem air tawar, diperlukan kombinasi tindakan pencegahan (preventive measures), penyingkiran secara bentuk (physical extermination), dan kontrol biologis (biological control),” ucap Charles.
Ia menjelaskan, dari sisi pencegahan, Pemprov Jakarta perlu memperkuat izin perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami.
“Tindakan pencegahan meliputi penguatan dan penerapan izin melalui memperkuat izin perdagangan ikan piaraan (ornamental fish) untuk mencegah pelepasan ikan sapu-sapu secara sengaja alias tidak sengaja ke perairan alami, serta melaksanakan kampanye kesadaran publik untuk mendidik masyarakat tentang akibat ekologis nan ditimbulkan,” ujarnya.
Selain itu, kata Charles, teknologi pemantauan awal juga dinilai krusial untuk menekan penyebaran.
“Deteksi dan pemantauan awal melalui DNA lingkungan (eDNA) juga terbukti sangat sensitif dan efektif untuk mendeteksi keberadaan dan penyebaran ikan sapu-sapu sehingga memungkinkan intervensi awal sebelum populasi menjadi tidak terkendali,” ucapnya.
Dalam kondisi populasi nan sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, namun kudu dilakukan secara lebih terarah.
“Penyingkiran secara bentuk dapat dilakukan melalui strategi penangkapan ikan sasaran nan selektif, khususnya terhadap perseorangan muda (ukuran kurang dari 30 cm) nan terbukti dapat menyebabkan keruntuhan populasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam pengendalian populasi.
“Perburuan ikan berbasis organisasi bisa menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari wilayah lain sehingga perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu nan telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” papar dia.
Dari sisi biologis, Charles menjelaskan, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung (Hemibagrus wyckioides) dan betutu (Oxyeleotris marmorata) juga dapat membantu, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu dengan ukuran sekitar 0,6–10 cm.
“Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan predator alami seperti ikan baung dan betutu nan dapat memangsa ikan sapu-sapu pada fase juvenil. Namun, perseorangan nan lebih besar umumnya tidak dimangsa lantaran mempunyai duri pertahanan,” ujarnya.
Dia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi.
“Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai sumber daya dapat didorong, tetapi tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar lantaran berpotensi mengandung logam berat,” ungkapnya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·