(MI/Agus Utantoro)
USIA senja terbukti bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus mengejar pengetahuan pengetahuan. Hal ini dibuktikan oleh Djoko Slamet Pudjorahardjo, seorang peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), nan sukses menyelesaikan pendidikan magister (S2) di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada usia 68 tahun.
Djoko, nan bekerja di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, resmi menyandang gelar Magister Teknik Fisika setelah menempuh studi melalui program Magister by Research (MBR). Capaian akademiknya pun sangat membanggakan. Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari.
Tesis Strategis untuk Teknologi Nuklir
Dalam studinya, Djoko menyusun tesis berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV. Topik ini sangat relevan dengan bagian pekerjaannya di BRIN nan berfokus pada teknologi akselerator alias pemercepat partikel.
Ia diwisuda pada periode pascasarjana 22-23 April 2026 di Grha Sabha Pramana, UGM. "Saya termotivasi melanjutkan studi lantaran mau terus meningkatkan kompetensi diri, didukung adanya program Degree by Research dari lembaga tempat saya bekerja," ujar Djoko usai aktivitas syukuran wisuda, Rabu (20/5/2026).
Melawan Tantangan Teknologi dan Gaptek
Meski mempunyai pengalaman riset nan mumpuni, Djoko mengaku menghadapi tantangan besar selama perkuliahan, terutama mengenai penyesuaian teknologi info di lingkungan kampus nan berkembang sangat cepat.
"Tantangan selama studi adalah kudu familiar dengan teknologi info digital di UGM. Kadang saya merasa 'gaptek' dibandingkan mahasiswa lain nan usianya jauh lebih muda. Namun, mereka sangat menghormati mahasiswa senior dan selalu senang hati membantu jika saya kesulitan," ungkap Djoko.
Beberapa mata kuliah mengharuskannya menguasai bahasa pemrograman dan beragam aplikasi khusus. Namun, semangat adaptasinya membuahkan hasil manis dengan nilai nan nyaris sempurna.
Hadiah Menjelang Purnatugas
Bagi Djoko, kelulusan ini mempunyai makna emosional nan mendalam. Selain sebagai pencapaian pribadi, gelar magister ini menjadi bingkisan spesial menjelang masa pensiunnya dari bumi riset nasional.
"Kelulusan ini merupakan bingkisan besar menjelang purnatugas saya. Ini membuktikan bahwa di usia nan tidak lagi muda, saya tetap bisa meningkatkan kompetensi melalui studi lanjutan jika ada kemauan," tuturnya.
Di akhir sesi, Djoko memberikan pesan inspiratif bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menempuh pendidikan. Ia menekankan bahwa studi kudu dijalani dengan penuh kesungguhan dan kepercayaan diri.
"Menuntut pengetahuan tidak terbatas oleh usia, selama kita tetap bisa melaksanakannya. Percayalah bahwa kita bisa menyelesaikan program studi tepat waktu dengan semangat nan konsisten," pungkasnya. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·