PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan).(X)
KESEPAKATAN gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum tentu menjadi jalan menuju perdamaian permanen. Pengamat Timur Tengah Smith Alhadar menilai minimnya transparansi mengenai isi kesepakatan membikin situasi tetap tidak pasti.
Ia menyoroti pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, nan menyebut penghentian perang regional tidak mencakup bentrok antara Israel dan Hezbollah. Padahal, penghentian bentrok tersebut merupakan bagian dari tuntutan Iran dalam 10 poin perdamaian.
Menurut Smith, kondisi ini membuka kesempatan bentrok kembali memanas. "Artinya, perang bisa meletus kembali disebabkan sabotase Netanyahu," kata Smith dihubungi Media Indonesia, Rabu (8/4).
Ia menilai, Netanyahu berada dalam posisi susah jika kudu menghentikan perang dengan Hezbollah sebelum golongan tersebut dilemahkan. "Pasalnya, jika dia melakukan gencatan senjata dengan Hezbollah sebelum proksi Iran ini kalah dan dilucuti, maka Netanyahu bakal jatuh, syukur-syukur tidak berujung pada pengadilan mengenai rumor korupsi dan pelemahan pengadilan nan dilakukannya," jelasnya.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump dinilai sebagai sosok nan susah diprediksi. Smith menilai tekanan politik domestik di Amerika Serikat juga bakal memengaruhi arah kebijakan Trump.
"Di pihak lain, Trump adalah tokoh nan unpredictable. Berikut, pendukung Republik di Senat dan DPR AS bakal menekan Trump untuk mendukung Israel dalam perangnya di Libanon," terangnya.
Namun demikian, dia memperkirakan Trump justru bakal mendorong Israel untuk mengakhiri bentrok di Libanon.
"Tapi, saya percaya Trump bakal menekan Netanyahu untuk mengakhiri perang di Libanon lantaran Trump dalam posisi nan lemah vis a vis Iran dalam perundingan di Pakistan pada Jumat besok," lanjutnya.
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) itu, juga meyakini bahwa pengalaman Iran dalam menghadapi kebijakan Trump sebelumnya membikin Teheran lebih berhati-hati dalam perundingan kali ini.
"Pasti, lantaran pengalaman Iran dibohongi acapkali oleh Trump, point ini telah dirundingkan secara tidak langsung antara AS dan Iran nan dimediasi Pakistan," ucapnya.
Selain itu, dia menilai perang nan melibatkan AS dan Israel tidak mendapat support luas di dalam negeri Amerika Serikat. "Lagi pula, perang terlarangan nan dilancarkan Trump-Netanyahu tidak terkenal di AS," katanya.
Dengan beragam aspek tersebut, Smith beranggapan bahwa Iran bakal tetap menekan AS dalam perundingan. "Jadi, saya percaya Iran bakal mendesak Trump untuk mengakhiri perang di Libanon. Ini pilihan susah tapi kudu diterima sebagai realitas. Jadi, ini bukan jarak taktis tapi gencatan senjata ini merupakan pengakuan kekalahan strategis AS terhadap Iran," paparnya.
Terkait potensi eskalasi jika kesepakatan gagal, Smith menyebut bahwa perundingan dirancang berjalan selama dua pekan, dengan kemungkinan perpanjangan jika belum tercapai kesepakatan. "Sesuai perjanjian, jika dalam 2 minggu belum terjadi deal maka perundingan diperpanjang," sebutnya.
Ia menilai kesempatan Trump untuk membatalkan kesepakatan relatif kecil. "Menurut saya, kali ini nyaris mustahil Trump bakal mengingkarinya lantaran dia tidak dalam posisi untuk melanjutkan perang nan merugikan seluruh dunia, memukul ekonomi rakyat AS, dan tidak mempunyai kesempatan untuk menang," ujarnya.
Sementara itu, mengenai pembukaan Selat Hormuz, Smith menilai langkah tersebut lebih berkarakter kompromi sementara. "Pembukaan Selat Hormuz untuk sementara hanya untuk menyelamatkan muka Trump," katanya
Ia menambahkan, selama masa gencatan senjata, aktivitas pelayaran tetap berada di bawah pengawasan Iran. "Lagi pula, selama 2 minggu ini, tanker dan kargo nan memasuki Selat Hormuz kudu berkoordinasi dengan militer Iran," jelasnya.
Dalam tuntutan nan diajukan Iran, Selat Hormuz disebut bakal tetap berada di bawah kendali Teheran setelah bentrok berakhir. Oleh lantaran itu, pembukaan jalur tersebut dinilai hanya berkarakter sementara selama proses negosiasi berlangsung.
"Jadi, pembukaan sementara tanpa Iran meminta fee dari tanker nan masuk hanya bertindak selama perundingan berlangsung. Bila perundingan gagal, Iran bakal menutup kembali selat itu," pungkasnya.
Gencatan senjata dua pekan ini dinilai belum menjamin stabilitas jangka panjang, melainkan tetap menyisakan potensi eskalasi di kawasan. (Fer/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·