Kecurigaan mulai muncul saat rapat persiapan atau technical meeting (TM) nan digelar secara online, nan dinilai tidak ahli dan berjalan sangat singkat.
"Technical meeting cuma sekitar 10 menit dan sangat tidak detail. Saya tanya soal rundown, alur masuk venue, pembagian sesi tamu, semuanya dijawab kelak diinformasikan satu hari sebelum aktivitas (H-1)," jelas Feny.
Menurut dia, kondisi itu berbeda dengan proses persiapan pernikahan pada umumnya nan biasanya dilakukan langsung di letak acara.
Kecurigaan semakin besar setelah Feny mendengar adanya korban lain nan sebelumnya mengeluhkan pelayanan WO tersebut, mulai dari keterlambatan katering hingga jumlah makanan nan tidak sesuai pesanan.
Puncaknya terjadi pada 13 Mei 2026 alias sekitar H-10 acara. Pihak Gedung Islamic Center Bekasi menghubungi pasangan tersebut dan menyampaikan pembayaran gedung belum dilunasi oleh pihak WO.
"Dari pihak Islamic Center bilang tetap kurang pembayaran sekitar Rp 17,5 juta. Ternyata, pihak WO baru bayar DP sekitar Rp 6 juta," ujar Feny.
Pasangan itu kemudian mencoba menghubungi pihak WO berkali-kali, namun tidak mendapat respons jelas. Hingga akhirnya pada H-1 pernikahan, Aldi dan Feny mendatangi instansi WO tersebut di JGC dan mendapati letak tersebut sudah kosong.
"Pas kita datang, rupanya galerinya sudah kosong. Kata orang sekitar, pindah ke Rorotan," ungkap Aldi.
Pasangan itu kemudian mencari penyimpanan WO di area Rorotan. Di letak tersebut, mereka berjumpa dengan pihak pengelola WO nan terus memberikan argumen berkait mengenai pembayaran letak aktivitas (venue).
"Kita minta kepastian pembayaran lantaran sudah H-1. Mereka bilang simpanan belum cair dan janji bakal dibayar jam empat sore," ucap Aldi.
Bahkan, pihak WO sempat menandatangani surat pernyataan di atas materai mengenai tanggung jawab penyelenggaraan acara. Namun setelah itu, pemilik WO pergi meninggalkan letak dengan argumen ada urusan lain.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·