Ilustrasi(Magnific.com)
KEPALA Seksi P2 Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Faridha Cahyani menyoroti meningkatnya ancaman penyakit degeneratif pada usia muda akibat paparan beragam aspek risiko, termasuk kebiasaan merokok.
Faridha mengatakan, saat ini penyakit nan dulu identik dengan golongan usia lanjut mulai banyak ditemukan pada remaja dan usia produktif. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sirine krusial bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat sejak dini.
"Banyak penyakit nan dulu degeneratif, sekarang ada di usia muda. Orang stroke usia 25 tahun ada dan kanker di usia remaja juga ada. Itu lantaran aspek akibat sudah ada di lingkungan kita," kata Faridha dalam aktivitas Youth Forum ICTOH 2026, di Surabaya, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan, rokok menjadi salah satu aspek akibat utama nan dapat memicu beragam penyakit tidak menular. Karena itu, pengendalian konsumsi rokok dan paparan asap rokok perlu terus diperkuat, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Menurut Faridha, menghindari asap rokok dapat membantu menekan akibat penyakit sehingga masyarakat dapat lebih konsentrasi mengendalikan aspek lain nan susah dicegah, seperti aspek keturunan.
"Kalau asap rokok bisa dihindari, maka aspek akibat tadi bisa dikikis dan diminimalisir. Dengan begitu, nomor kesakitan dan kematian akibat rokok juga bisa ditekan," ujarnya.
Faridha juga menepis dugaan bahwa merokok dapat meningkatkan inspirasi maupun kreativitas. Ia menilai, generasi muda tetap dapat berprestasi dan berinovasi tanpa kudu merokok.
"Anak-anak muda nan tidak merokok juga tetap punya buahpikiran dan inovasi. Jadi itu bukan argumen nan tepat," ucapnya.
Lebih lanjut, Faridha mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya telah mempunyai beragam izin mengenai pengendalian rokok, mulai dari peraturan wilayah hingga Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan nan mengatur penjualan dan iklan rokok. Namun, menurutnya, tantangan terbesar saat ini terletak pada penerapan kebijakan di lapangan.
"Regulasinya sudah ada, termasuk perda dan peraturan kepala daerah. nan menjadi tantangan adalah implementasinya agar betul-betul melangkah optimal," jelasnya.
Karena itu, dia mendorong keterlibatan aktif masyarakat, termasuk organisasi mini di tingkat family dan sekolah, dalam mendukung penerapan Kawasan Tanpa Rokok dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Selain itu, Faridha membujuk generasi muda untuk menjadi pemasok perubahan dalam kampanye pengendalian rokok. Menurutnya, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi imajinatif untuk menyebarkan info mengenai ancaman rokok.
"Kita bisa menjadi agent of change dengan memanfaatkan TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya untuk sosialisasi ancaman rokok. Materi edukasi juga sudah banyak tersedia di akomodasi kesehatan maupun sekolah," tuturnya.
Ia juga meminta generasi muda berkedudukan aktif sebagai pengawas dan pelapor pelanggaran Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan masing-masing agar penerapan kebijakan dapat melangkah lebih efektif.
"Peran generasi muda sangat penting, mulai dari edukasi, menjadi role model, hingga mengawasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·