Perang Iran, Israel, dan AS Bakal Jadi Bencana untuk Industri Chip Semikonduktor

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

loading...

Chip Exynos 2500. FOTO/ CNET

TEHERAN - Konflik nan sedang berjalan di Timur Tengah tidak hanya mengguncang pasar daya tetapi juga menimbulkan akibat bagi industri semikonduktor dunia – sektor nan sangat diuntungkan dari perkembangan pesat kepintaran buatan (AI).

Menurut para analis, jika bentrok berlanjut, industri chip dapat menghadapi dua tekanan secara bersamaan: gangguan terhadap pasokan material krusial dan melemahnya permintaan akibat kenaikan biaya energi.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran menyoroti peran Timur Tengah dalam rantai pasokan semikonduktor dunia – sebuah sistem kompleks nan berjuntai pada beragam macam material khusus.

Segera setelah pecahnya permusuhan, saham-saham semikonduktor ambruk berbarengan dengan pasar saham. Situasi baru agak stabil setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa perang mungkin bakal segera berakhir.

Produsen chip memori terkemuka Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK hynix, sangat terpukul.

Sejak awal permusuhan, kapitalisasi pasar campuran kedua perusahaan tersebut telah menyusut lebih dari 200 miliar dolar AS, meskipun saham mereka pulih secara signifikan dalam perdagangan pada 10 Maret.

Menurut Ray Wang, seorang analis memori di SemiAnalysis, bentrok nan berkepanjangan dapat mengganggu akses ke material krusial dalam pembuatan chip, khususnya helium dan bromin.

Helium memainkan peran vital dalam pembuatan semikonduktor, membantu menghilangkan panas selama fabrikasi dan digunakan dalam fotolitografi—langkah krusial dalam mencetak sirkuit nan sangat canggih ke dalam chip.

Menurut Survei Geologi AS, Qatar sendiri memasok lebih dari sepertiga helium dunia, dan saat ini belum ada pengganti nan layak.

Sebelumnya, Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA) memperingatkan bahwa jika pasokan helium terganggu, industri manufaktur semikonduktor dunia dapat menghadapi guncangan besar.

Tidak hanya produksi, tetapi transportasi helium keluar dari Timur Tengah juga berisiko jika jalur pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews