Ilustrasi(Dok Istimewa)
DIREKTUR Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Abri Danar Prabawa, mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran permintaan pekerja migran, dari nan low skill menjadi high skill.
“Maka dari itu sekarang sudah saatnya kita bicara jika bekerja di luar negeri itu bakal menjadi bagian dari proses nan bisa disiapkan melalui lembaga pendidikan,” ungkapnya dalam forum obrolan dan sosialisasi berjudul Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri melalui Penguatan di Perguruan Tinggi di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4).
Lebih lanjut, menurutnya saat ini baru 3,1 persen lulusan perguruan tinggi nan mengisi pasar kerja global. “Untuk itu banyak nan kudu kita kerja samakan. Kita kudu memastikan nan bekerja ke luar negeri levelnya naik dan juga perlindungannya meningkat,” ujar Abri.
Di tempat nan sama, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) , Beny Bandanadjaja, menambahkan bahwa bumi saat ini mengalami perubahan nan berakibat pada hilangnya pekerjaan, tapi juga banyak pekerjaan baru nan muncul.
“Ini mendorong kita kudu bisa beradaptasi dengan cepat. Paling krusial dari pekerja di luar negeri itu tingkat kesiapan dan ini ada di perguruan tinggi. Kita mendorong gimana pembelajaran dapat relevan dan berdampak. Maka dari itu cakupan kurikulum program studi vokasi ini kudu bisa menghasilkan lulusan nan mempunyai skill nan tinggi,” kata Beny.
Di lain pihak, Tim Task Force Kebekerjaan Lulusan Perguruan Tinggi, Anggun Siswanto, menekankan bahwa Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi dapat dikembangkan untuk program kerja sama antara KP2MI dengan Kemdiktisaintek.
“Pada dasarnya di masing-masing perguruan tinggi pengelolaan CDC ini berfaedah untuk pengembangan pekerjaan mahasiswa, pekerjaan ekspo, serta konsultasi dan konseling pekerjaan mahasiswa,” jelasnya.
“Kami hadirkan CDC internasional alias CDC-MC. Ini upgarding dari CDC nan sudah dilaksanakan di perguruan tinggi. Nantinya di sini bakal ada penguatan kompetensi dunia baik itu pembuatan CV internasional, training bahasa asing, dan sertifikasi kompetensi. Selanjutnya nan krusial juga adalah jejaring lulusan nasional dan internasional sebagai mentoring lintas negara,” lanjut Anggun.
Di lain pihak, Staf Khusus Menteri Bidang Jejaring Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno, mengatakan bahwa info pekerja terampil Indonesia terus bertambah, tapi tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.
“Jadi kebutuhannya tidak pernah bisa terpenuhi. Ada 36 persen defisit. Menurut BPS tingkat pengangguran di Indonesia 7,4 juta. Filipina dan India kirimkan tenaga kerja ke luar negeri tinggi dengan jumlah luar biasa. Tapi kita hanya 200-300 ribu orang per tahun. Ekosistem kudu kita bangun untuk long term. Belajar dari Filipina dari 2020 hanya 550 ribu menjadi 3,1 juta pada 2023. Ada ekosistem nan dibangun dengan sistem insentif. Targetnya ada 100 ribu tenaga kerja terampil nan bakal bekerja di luar negeri,” ujar Oki.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, Said Saleh Alwaini, menegaskan bahwa sebenarnya permintaan pekerja migran Indonesia dari luar negeri selalu banyak untuk perguruan tinggi.
“Ekosistem untuk merekrut non perguruan tinggi sudah terbangun sejak lama. Jadi lebih mudah. Sayangnya hubungan dengan perguruan tinggi belum terbangun. Dengan kondisi ini, jika ada permintaan dengan kompetensi tinggi enggak kebayang kudu mencari ke mana. Jadi permintaan high level tadi jadinya terabaikan,” tuturnya.
Dengan aktivitas ini, diharapkan terjalin kerja sama nan berjalan secara berkepanjangan sehingga pekerja migran Indonesia terampil dari perguruan tinggi dapat memenuhi permintaan dari luar negeri. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·