Polisi Bongkar Sindikat Joki UTBK di Surabaya, Ada Dokter dan ASN

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Polrestabes Surabaya membongkar sindikat perjokian Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) nan telah beraksi selama sembilan tahun.

Sebanyak 14 tersangka ditangkap, mulai dari mahasiswa berprestasi, tenaga kerja swasta, aparatur sipil negara (ASN) hingga dokter.

Kasus ini terungkap bermulai pada penyelenggaraan UTBK Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di Gedung Rektorat Lantai 4 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 21 April 2026 lalu. Pengawas ujian meletakkan berprasangka pada seorang peserta berinisial HER.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecurigaan muncul setelah petugas menemukan foto peserta identik dengan info peserta UTBK tahun sebelumnya, namun kali ini menggunakan identitas nan berbeda.

"Dari hasil pengecekan itu, berangkaian dengan piagam memang setelah dicek fotonya itu sama dengan foto seseorang nan sedang duduk mengerjakan soal-soal atas nama pengguna tadi itu," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan, Jumat (8/5).

Meski identitasnya diragukan, HER tetap diizinkan menyelesaikan ujian. Pelaku diketahui sangat tenang serta bisa menyelesaikan soal dengan sangat cepat, dan nilainya cukup tinggi.

"Dan nilainya rupanya juga cukup tinggi mendapatkan kisaran nilai 700," ujarnya.

Namun saat pengawas mencoba membujuk pelaku berbincang menggunakan bahasa Madura, sesuai dengan domisili asal di ijazahnya ialah Sumenep. Pelaku tak bisa menjawab. Merasa terpojok, dia akhirnya mengakui perbuatannya.

"Lalu kemudian dilakukan pendalaman dan kemudian dia bercerita banyak tentang gimana modus nan dilakukan sampai dengan dia bisa duduk di tempat itu mengikuti ujian itu," jelas Luthfie.

Pelaku juga mengaku dia sebenarnya adalah NRS (21) asal Surabaya. Ironisnya, dia merupakan mahasiswa berprestasi di salah satu perguruan tinggi, nan bakal segera diwisuda untuk lulus dengan predikat cumlaude beberapa bulan lagi.

"Yang tersangka atas nama N ini memang mahasiswa tapi di salah satu kampus. Dia sebenarnya pada bulan Oktober ini bakal wisuda. Dengan predikat jika nilai-nilai nan sudah ada sekarang kita cek rupanya juga cumlaude," terang Luthfie.

Dari pengakuan NRS itulah polisi akhirnya melakukan pendalaman terhadap sindikat joki UTBK ini. Aparat akhirnya menangkap belasan tersangka lain nan mempunyai latar belakang berbeda-beda.

Ke-14 tersangka tersebut antara lain NRS (21) mahasiswa; IKP (41) tenaga kerja swasta; PIF (21) mahasiswa; FP (35) tenaga kerja swasta; BPH (29) dokter; DP (46) dokter; MI (31) dokter.

Kemudian RZ (46) pedagang; HRE (18) pelajar; BH (55) wiraswasta; SP (43) tenaga kerja swasta; SA (40) tenaga kerja swasta; ITR (38) tenaga kerja ASN P3K; serta CDR (35) tenaga kerja ASN P3K.

Luthfie menjelaskan sindikat ini terbagi dalam beberapa klaster. Yakni klaster penerima order sebanyak lima orang, tiga diantaranya berprofesi sebagai dokter. Kemudian klaster pemberi order dua orang, klaster joki lapangan dua orang, dan klaster kreator KTP tiruan lima orang, nan beberapa di antaranya merupakan ASN.

"Jadi untuk saat ini sudah kita tahan sebanyak 14 tersangka. Jadi baik dari joki, kemudian penerima order, pemberi order termasuk juga pembantu ialah nan terkait," jelasnya.

Sindikat ini dikendalikan oleh IKP alias K nan berkedudukan sebagai pemberi order. Aksinya sendiri sudah berjalan selama sembilan tahun alias setidaknya sejak 2017 hingga 2026.

Luthfie mengatakan sindikat ini diketahui mematok nilai dahsyat nan menyasar jurusan-jurusan bergengsi, terutama Fakultas Kedokteran. Biaya nan dipatok tersangka utama berinisial K berkisar antara Rp500 juta hingga Rp700 juta per klien.

"Tersangka utama kerabat K menerima tender ini dengan biaya ataupun nilai nan ditetapkan itu bervariasi antara Rp500 juta sampai Rp700 juta rupiah," ungkap Luthfie.

Dari tarif dahsyat itu, para joki lapangan menerima penghasilan rata-rata Rp20 juta hingga Rp30 juta. Namun, untuk menembus kampus favorit, penghasilan joki bisa menyentuh nomor Rp75 juta.

Operasi sindikat ini tidak hanya terbatas di Surabaya alias Jawa Timur. Polisi menemukan bukti jaringan ini beraksi lintas provinsi hingga keluar pulau.

"Karena ini rupanya tersebar tidak saja di kampus nan ada di Jawa Timur tetapi ada di Jawa Barat, kemudian di Jawa Tengah dan juga di luar Jawa terutama di Kalimantan," papar Luthfie.

Hingga saat ini, interogator telah mengantongi identitas 114 orang nan diduga kuat merupakan pengguna alias pengguna jasa joki tersebut. Luthfie mengataka. Pihaknya bakal mendalami mereka nan sudah berstatus mahasiswa alias apalagi lulus.

"Sudah kita temukan info pemberi order nan sudah terdata dan sudah kita bisa kumpulkan identitasnya itu sebanyak 114 orang. Nama-namanya sudah kita dapatkan dan kita bakal terus dalami itu," katanya.

Meski melibatkan banyak pihak profesional, kepolisian memastikan bahwa hingga detik ini belum ada indikasi keterlibatan dari internal kampus manapun.

"Jadi hasil pemeriksaan sampai dengan saat ini bahwa tidak ada keterlibatan dari pihak kampus berangkaian dengan terjadinya perjokian dalam ujian masuk seleksi mahasiswa ini," pungkas Luthfie.

Modus para tersangka ialah mengganti peserta UTBK dengan joki nan mempunyai keahlian akademik tinggi. Para pelaku juga memalsukan arsip seperti KTP, ijazah, hingga info pendaftaran online SNPMB.

Selain menangkap para tersangka, polisi menyita sejumlah peralatan bukti, di antaranya printer kartu identitas, fotokopi ijazah, transkrip nilai, akta kelahiran, hingga arsip kartu keluarga.

Para tersangka terancam Pasal 392 KUHP dan/ alias Pasal 69 Ayat (1) dan/atau Ayat (2) Jo. Pasal 61 Ayat (2) dan/atau Ayat (3) Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Jo. Pasal 20 huruf d KUHP dan/atau Pasal 96 Jo. Pasal 5 huruf f: Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

(frd/gil)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional