Jakarta -
Presiden Prabowo Subianto menyinggung praktik under invoicing alias pelaporan nilai ekspor di bawah nilai sebenarnya nan menyebabkan kekayaan Indonesia banyak mengalir ke luar negeri selama puluhan tahun.
Prabowo mengatakan, praktik under invoicing selama 34 tahun menyebabkan kebocoran pendapatan negara hingga US$ 900 miliar alias mencapai Rp 15.400 triliun. Hal itu disampaikan dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
"US$ 900 miliar kita hilang. Bayangkan jika US$ 900 miliar kita nikmati, kita pakai, negara apa Indonesia ini. Ada underinvection, ada undercounting, ada transfer pricing. Banyak di antara kalian senyum, mungkin di antara kalian ada pengusaha-pengusaha juga di ruangan ini, berfaedah tahu. Apa nan saya bicara itu keadaan sebenarnya," ujar Prabowo dalam rapat paripurna di DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo mengatakan Indonesia sebenarnya nyaris selalu mencatat surplus perdagangan. Artinya, nilai ekspor lebih besar dibanding impor. Namun menurutnya, kondisi itu tidak sepenuhnya tercermin pada kekuatan ekonomi nasional.
"Terjadi outflow of national wealth, bahwa negara kita nggak pernah rugi satu tahun pun. Ekspor selalu lebih. Kalau pengetahuan jual beli berfaedah nan kita jual lebih banyak dari nan kita beli. Harusnya negara ini tidak bakal pernah mengalami krisis ekonomi," tambah Prabowo.
Ia mengutip info lain dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana selama 22 tahun Indonesia mencatat untung US$ 436 miliar, namun pada saat nan sama terjadi arus keluar biaya hingga US$ 343 miliar.
Prabowo mengatakan praktik tersebut berakibat langsung terhadap keahlian fiskal negara. Menurutnya, kondisi tersebut membikin anggaran pemerintah selama ini selalu terasa tidak cukup.
"Ini nan sebabnya gaji-gaji pembimbing kecil, penghasilan abdi negara penegak norma kecil, penghasilan ASN kecil. Ini selalu anggaran tidak cukup dan tidak kuat. Selama 34 tahun apa nan terjadi? Under invoicing adalah fraud, penipuan nan dijual pengusaha tidak dilaporkan nan sebenarnya," sebut Prabowo.
Prabowo mencontohkan praktik manipulasi ekspor komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit. Barang nan dikirim disebut lebih besar dibanding nan dilaporkan di arsip resmi.
"Katakanlah kita bohong di pelabuhan Indonesia, kita kirim 10 ribu ton batu bara hanya dilaporkan 5 ribu ton," tutup Prabowo
(acd/acd)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·