Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Prabowo Subianto mengaku sedih lantaran kerap mendapat laporan mengenai pejabat publik nan melakukan penyelewengan. Kekecewaan disebut dirasa mendalam lantaran oknum nan terlibat merupakan orang-orang nan dia percaya.
Keresahan tersebut ditumpahkan Prabowo saat memberikan pidato di hadapan masyarakat di Museum Marsinah, Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu (16/5) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya geleng-geleng kepala, sedih saya, bahwa tiap hari saya dapat laporan pejabat-pejabat nan menyeleweng. Saya sedih," ucap Prabowo dalam siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden.
"Orang nan saya angkat, orang nan saya bina, orang nan saya kasih kehormatan diberi kedudukan penting, begitu menjabat menyeleweng, nyuri duit rakyat! Bagaimana? Apa nan kudu saya buat?" tuturnya.
Ia kemudian menceritakan momen di mana Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Muhammad Yusuf Ateh, sempat datang menghadapnya dalam kondisi tegang dan penuh keraguan.
Kepala BPKP dinilai stres lantaran temuan kasus penyelewengan nan hendak dilaporkan rupanya menyeret nama-nama nan dikenal berada di lingkaran dekat sang presiden. Saat itu, Kepala BPKP malah meminta petunjuk pemeriksaan boleh dilanjutkan alias tidak.
[Gambas:Video CNN]
Mendengar keraguan itu, Prabowo langsung memberikan perintah nan sangat keras. Baginya, tidak ada kamus tebang pilih alias perlindungan bagi siapa pun nan nekat menyentuh duit rakyat, tak peduli seberapa dekat hubungan orang tersebut dengan dirinya.
"Dia lihat saya, masalah apa, ngomong petunjuk. 'Teruskan pemeriksaan! Tidak ada, enggak ada mau orang Prabowo, bukan orang Prabowo, dekat sama saya enggak ada urusan! Kalau ada indikasi, terus periksa!'" kata Prabowo menirukan petunjuk tegasnya kala itu.
Mantan Pangkostrad ini menegaskan amanah dan kedudukan negara membawa tanggung jawab penuh nan absolut kudu dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan negara, bukan sebagai tameng keluhuran pribadi.
Ia menyayangkan sikap segelintir oknum nan setelah memegang kekuasaan justru menjadi angkuh dan merasa tak tersentuh hukum.
"Justru jika diberi kehormatan kudu lebih hati-hati dan lebih jaga, bukan diberi wewenang, kepercayaan, malah merasa adigang, adigung, adiguna, merasa di atas, dan merasa negara ini bodoh," kritiknya tajam.
Prabowo pun memberi peringatan terbuka bahwa di era serba digital seperti sekarang, seluruh pergerakan anggaran dan birokrasi sudah terpantau secara ketat.
Menutupi kejahatan kedudukan dia nilai sebagai perihal nan mustahil lantaran sigap alias lambat pasti bakal terendus.
Hal nan paling dia risaukan adalah akibat sosial dan psikologis nan kudu ditanggung anak dan istri para pejabat tersebut saat kasusnya terbongkar di ujung pekerjaan mereka.
Prabowo juga menyatakan sikap tegas tanpa pandang bulu ini apalagi bertindak di internal partainya sendiri, Gerindra.
Ketua Umum Partai Gerindra ini mempersilakan penegak norma untuk memeriksa dan menahan kader-kadernya jika memang terbukti melakukan korupsi.
Ketegasan serupa juga dia tuntut dari para petinggi, jenderal, maupun mantan jenderal di tubuh TNI dan Polri untuk bisa menjaga kehormatan di akhir masa baktinya dengan memberikan teladan nan bersih kepada masyarakat.
Prabowo juga memberikan opsi terakhir nan tegas bagi seluruh pejabat nan telanjur menikmati aset alias duit dari hasil nan tidak sah agar segera mengembalikannya secara sukarela sebelum norma bertindak lebih jauh.
"Kalau saya dapat laporan, apa nan buat kelak geremeng-geremeng sakit hati, suruh kembaliin nan dia dapat secara tidak halal, enggak mau? Ya sudah, urus sama kejaksaan sana, saya serahkan," pungkas Prabowo.
(chri)
Add
as a preferred source on Google
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·