Pramono-Wiranto Hadiri Halal Bihalal Paguyuban Jateng: Keberagaman Jadi Kekuatan

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (ketiga kanan) usai Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan utama Jakarta. Hal ini ditunjukkan dengan beragam kebijakan mengenai seremoni hari besar keagamaan.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Halalbihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4).

“Saya mau persoalan keberagaman itu menjadi selesai untuk Jakarta. Apa itu keberagaman? Salah satu aktivitas hari ini Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah, ini menunjukkan bahwa guyub rukun selamanya nan migunani tadi, itu menjadi kekuatan,” kata Pramono.

Dia mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI telah memberikan kesempatan bagi beragam seremoni keagamaan dan budaya di ruang publik.

“Jakarta ini kudu menjadi rumah bagi semua golongan agama, golongan, dan itu kudu betul-betul diwujudkan, bukan hanya dikatakan,” tutur Pramono.

Menurut Pramono, kebijakan tersebut tidak hanya memperkuat toleransi, tetapi juga berakibat pada pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut, transaksi saat seremoni Natal di Jakarta mencapai Rp 15,25 triliun setelah adanya insentif pajak dan potongan nilai dari pemerintah.

Peserta mengikuti Parade Imlek Nusantara di area Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Selain itu, seremoni Nyepi nan untuk pertama kalinya digelar di Bundaran HI dengan menghadirkan ogoh-ogoh dan penjor juga menjadi perhatian publik, termasuk dari luar negeri.

“Semakin orang memandang bahwa Jakarta keberagaman itu bukan hanya diucapkan, tapi pawai ogoh-ogoh membikin banyak orang, lantaran apa pun Bali ini adalah dilihat dunia,” ungkap Pramono.

Ia juga menyinggung seremoni Imlek nan melibatkan lebih dari 100 kantor, mal, dan hotel, hingga program Jakarta Festive Wonder selama Ramadan dan Idul Fitri.

Festival Nyepi 2026 nan menampilkan pawai ogoh-ogoh digelar di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pramono menilai rangkaian aktivitas tersebut berkontribusi pada peningkatan kondisi ekonomi dan keamanan Jakarta. Ia juga menyebut Jakarta sekarang menempati posisi kedua sebagai kota teraman di ASEAN.

“Maka dengan demikian saudara-saudara sekalian dalam legal bihalal ini, sekali lagi, kontribusi Paguyuban Jawa Tengah bagi Jakarta itu luar biasa. Luar biasa,” tutur Pramono.

Sementara itu, Dewan Kehormatan Paguyuban Jawa Tengah, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, menekankan pentingnya keteladanan pemimpin melalui nilai-nilai budaya Jawa.

Ia menyampaikan pemimpin kudu bisa mengendalikan hawa nafsu dan mengedepankan keluhuran budi demi kesejahteraan masyarakat.

“Jadi hawa nafsu itu dikurangi, nan muncul keluhuran budi sebagai seorang pemimpin,” ujar Wiranto.

“Jadi jika pemimpin lupa untuk menyejahterakan masyarakatnya itu bukan pemimpin, jika hanya menyejahterakan dirinya ya keluarganya partainya itu bukan pemimpin,” lanjutnya.

Dewan Kehormatan Paguyuban Jawa Tengah, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, saat Halal Bihalal Paguyuban Jawa Tengah di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Wiranto juga menyinggung kondisi saat ini nan disebut sebagai masa penuh tantangan alias 'Kolobendu', nan ditandai beragam musibah alam dan ekonomi.

“Zaman sekarang ini ya adalah era Kolobendu di sana diartikan gitu. Kolobendu itu banyak era nan banyak musibah alamnya ya. Ada tsunami di Aceh, ada gempa di Yogya, susul lagi kemarin ya ada tanah longsor di tiga provinsi, sekarang di beberapa tempat tetap ada gempa-gempa bumi susul-menyusul. Itu namanya Kolobendu, era nan penuh bencana. Bencana itu tidak hanya alam tapi musibah ekonomi juga sama,” ungkap Wiranto.

Namun, dia optimistis bakal datang masa nan lebih baik, nan disebutnya sebagai 'Kolosubo', dengan syarat hadirnya pemimpin nan bijak dan sederhana.

“Nanti ada era nan mengubah itu menjadi era nan membahagiakan, tapi ya kudu ada para pemimpin nan seperti, ya pemimpin nan nggak butuh apa-apa,” tuturnya.

“Pemimpin seperti sederhana kehidupannya tapi ya dengan kebijaksanaan itu ya memancarkan sinar kewibawaan nan luar biasa. Dia terus bakal memantau rakyatnya, rakyat nan di atas, di tengah, di bawah, dipantau kehidupannya seperti apa baru dibuat mereka berbahagia,” ucap Wiranto.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan