Presiden Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (15/5).(Dok. BPMI Sekretariat Presiden)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan persoalan esensial nan menyangkut keberlangsungan hidup dan kedaulatan bangsa Indonesia. Hal tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (15/5).
Presiden menyatakan bahwa pangan tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas perdagangan biasa alias sekadar persoalan ekonomi. Menurutnya, kesiapan pangan adalah fondasi utama kekuatan sebuah negara.
“Selalu saya katakan, pangan adalah masalah hidup dan meninggal suatu bangsa. Saya tidak memandang pangan sebagai sekadar komoditas. Pangan adalah masalah hidup suatu bangsa,” tegas Prabowo.
Apresiasi Percepatan Swasembada
Dalam sambutannya, Prabowo mengapresiasi keahlian Kementerian Pertanian dan seluruh pihak mengenai nan bisa mempercepat sasaran swasembada pangan. Presiden mengungkapkan bahwa capaian ini melampaui ekspektasi awal pemerintah.
“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya. Saya minta swasembada dalam 4 tahun. Mereka bisa hasilkan dalam 1 tahun. Saya terima kasih,” ujarnya.
Presiden juga menekankan bahwa sebagai pemimpin, dirinya memikul tanggung jawab penuh atas kecukupan pangan rakyat Indonesia. Ia tidak mau ada masyarakat nan mengalami kelaparan di tengah potensi besar sumber daya alam nasional.
“Saya nan bertanggung jawab jika bangsa ini lapar. Saya nan bertanggung jawab,” ucapnya lugas.
Filosofi Militer dan Ketahanan Nasional
Pandangan Prabowo mengenai urgensi pangan diakui lahir dari pengalamannya di bumi militer. Ia mengibaratkan kedaulatan pangan seperti kesiapan logistik dalam sebuah operasi tempur.
“Sebelum kita berangkat operasi, kita cek berapa beras nan kita punya. Kalau pasukan tidak ada beras, jika pasukan tidak makan, tidak bisa perang,” jelas Prabowo.
Terkait dinamika global, Prabowo menyebut bahwa keberhasilan Indonesia menjaga stok pangan nasional sekarang mulai dilirik bumi internasional. Di saat banyak negara membatasi ekspor, Indonesia justru mulai diminta untuk memasok kebutuhan beras global.
Meski demikian, Presiden mengingatkan agar kebijakan ekspor tetap mengutamakan kepentingan domestik dan kesejahteraan petani. Ia meminta agar nilai jual tetap kompetitif dan persediaan nasional tetap kondusif di tengah ketidakpastian global.
“Jangan nyetop, tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini. nan utama kita amankan rakyat kita dulu,” tandas dia. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·