Profit Aplikator Ojol Diprediksi Tertekan Efek Komisi Turun, Ekosistem Grup Bisa Jadi Penyelamat

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

 Profit Aplikator Ojol Diprediksi Tertekan Efek Komisi Turun, Ekosistem Grup Bisa Jadi Penyelamat

Profit Aplikator Ojol Diprediksi Tertekan Efek Komisi Turun, Ekosistem Grup Bisa Jadi Penyelamat (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemangkasan komisi ojek online (ojol) dari 20% menjadi 8% untuk aplikator dan untuk driver dari 80% menjadi 92% dinilai bakal berakibat pada pendapatan dan tingkat profitabilitas aplikator.

Gojek melalui induknya PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sudah menyampaikan berkomitmen bakal mengikuti patokan terbaru dari pemerintah via Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang komisi terbaru untuk jasa GoRide.

Aplikator lainnya, Grab Indonesia juga bakal berkoordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan penerapan Perpres tersebut bagi mitra pengemudi transportasi roda dua nantinya bakal melangkah dengan lancar.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Airlangga Rumayya Batubara menilai penyesuaian komisi dari 20% ke 8% ini jelas berakibat pada pendapatan aplikator termasuk GoTo, dalam perihal ini pendapatan dari roda dua.

“GoTo sendiri mengakui itu (ada akibat pada pendapatan roda dua). Tapi apakah ini langsung menakut-nakuti keberlanjutan upaya mereka? Tidak otomatis,” katanya di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Dia menegaskan keuntungan perusahaan memang bakal tergerus, tapi upaya mereka tidak bakal jatuh. Namun dia menegaskan, nan justru perlu diwaspadai adalah nasib pengemudi.

“Penurunan komisi aplikator tidak otomatis berfaedah penghasilan driver naik. Kalau tarif konsumen ikut naik, penumpang bisa berkurang, order turun, dan ujungnya pendapatan driver justru stagnan alias apalagi turun. Niatnya baik, tapi tanpa kebijakan tarif nan komprehensif, hasilnya bisa berbalik,” katanya.

Dia mengatakan para aplikator termasuk Goto dan Grab sejak awal tidak meletakkan semua telur di satu keranjang. Mereka bukan hanya aplikasi ojek, tetapi terdiversifikasi dengan lini upaya finansial teknologi alias fintech, ada jasa logistik, dan beragam lini ekosistem digital lain nan bisa saling menopang.

“Sepanjang 2025, pendapatan bersih fintech GoTo saja tumbuh 62% menjadi Rp5,8 triliun. Selain itu, efisiensi operasional berbasis AI juga menjadi salah satu aspek nan membantu GoTo mencetak untung bersih pertama kalinya pada kuartal I 2026. Jadi jika satu lini terkena tekanan regulasi, bukan berfaedah seluruh upaya langsung goyah,” katanya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com