Promo Tumbler Bawa Masalah, Raksasa Starbucks Kena Hajar Sana-sini

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Starbucks bagian Korea Selatan tengah menjadi sorotan tajam setelah promosi tumbler berjudul "Tank Day" memicu kemarahan publik dan berkembang menjadi kontroversi politik nasional. Kampanye nan awalnya dimaksudkan sebagai promosi penjualan justru dianggap menyinggung sejarah kelam perjuangan kerakyatan Korea Selatan.

Mengutip Korea Herald, kontroversi dimulai setelah Starbucks Korea meluncurkan kampanye tumbler pada hari Senin (25/5) menggunakan frasa "Tank Day" dan "Slam on the desk!". Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan tragedi Pemberontakan Gwangju 1980, saat rezim militer Korea Selatan mengerahkan tank dan pasukan untuk menumpas demonstrasi prodemokrasi.

Ratusan penduduk sipil dilaporkan tewas dalam tragedi tersebut. Selain itu, banyak penduduk Korea mengaitkannya dengan kasus penyiksaan aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987, nan menjadi simbol kekejaman rezim militer kala itu.

Lantaran perihal ini, Starbucks Korea meminta maaf dan menghentikan promosi tersebut. Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, juga mengeluarkan permintaan maaf ke publik, sementara CEO Starbucks Korea, Sohn Jeong-hyun, dicopot dari jabatannya.

Namun kontroversi tersebut kemudian menyebar secara online, di mana beberapa pengguna ultra-konservatif merangkul Starbucks sebagai langkah untuk melawan boikot tersebut.

Skandal ini diwarnai dengan gempuran unggahan-unggahan hasil AI menampilkan politisi sayap kanan Korea Selatan, memuat para sosok dari sejarah kelam negara tersebut. 

Frasa seperti "Kopi berfaedah Starbucks" dan "pakaian kerja wanita sayap kanan nan elok muncul secara online. Beberapa pengguna juga menggunakan tagar "kopi anti-komunis," sementara nan lain membagikan gambar tank nan berlogo Starbucks.

Bagi sebagian pengguna, mengunjungi gerai Starbucks tampaknya bukan lagi tentang kopi, melainkan langkah untuk menunjukkan sikap politik mereka.

Boikot semakin meluas

Penerimaan Starbucks nan tampak jelas oleh beberapa pengguna ultra-konservatif muncul sebagai respons terhadap aktivitas boikot nan semakin berkembang terhadap jaringan warung kopi tersebut.

Pengguna media sosial telah mengunggah foto dan video diri mereka sendiri nan merusak produk Starbucks alias menuntut pengembalian dana.

Unggahan nan menunjukkan orang-orang menghancurkan mug dan gelas Starbucks Korea telah menyebar secara online, dengan beberapa pengguna menandai teman-teman mereka dan mendesak mereka untuk berasosiasi dalam boikot.

Yang lain membagikan kiat tentang langkah mendapatkan pengembalian biaya untuk kartu prabayar Starbucks Korea, menjelaskan kebijakan pengembalian biaya perusahaan melalui foto dan video nan mendokumentasikan prosesnya.

"Pengembalian biaya hanya tersedia setelah lebih dari 60 persen saldo telah digunakan," tulis seorang pengguna.

Foto-foto toko Starbucks nan kosong di Gwangju, tempat terjadinya Pemberontakan Demokrasi 18 Mei, juga beredar online, dengan beberapa pengguna berkomentar, "Ini semestinya terjadi di mana-mana."

Ketua partai nan berkuasa, Anggota Kongres Jung Chung-rae, juga mendesak para kandidat dan ahli kampanye partai pada hari Rabu untuk tidak pergi ke Starbucks.

Kupon Starbucks Disetop Kementerian

Reaksi negatif ini juga mencapai pemerintah. Menteri Dalam Negeri Yoon Ho-jung mengatakan pada hari Kamis bahwa kementeriannya bakal berakhir menggunakan produk dari perusahaan nan memperlakukan sejarah kerakyatan Korea dengan enteng alias menggunakannya untuk tujuan komersial, nan tampaknya merujuk pada promosi "Tank Day" Starbucks Korea.

Dalam sebuah unggahan di X, Yoon menyatakan penyesalan mendalam atas apa nan disebutnya sebagai perilaku anti-sejarah Starbucks Korea. Ia mengatakan bahwa kerakyatan dibangun atas pengorbanan dan dedikasi penduduk negara.

"Lembaga pemerintah, termasuk Kementerian Dalam Negeri, sering menggunakan voucher seluler seperti kupon kopi untuk survei, kontes, dan aktivitas partisipasi publik, tetapi kementerian tidak bakal lagi menyediakan produk dari perusahaan nan mengkomersialkan alias meremehkan sejarah demokrasi, katanya.

Baek Seung-jong, seorang guru besar sejarah di Universitas Sogang, mengatakan kontroversi Starbucks Korea baru-baru ini berisiko melemahkan kesadaran moral generasi muda tentang tragedi sejarah.

Penjualan merosot

Starbucks Korea mengalami penurunan penjualan nan sangat signifikan setelah kampanye pemasaran nan membangkitkan kembali penindasan militer sadis tahun 1980 terhadap demonstran pro-demokrasi memicu protes publik, kata seorang pejabat dari operator Shinsegae Group pada hari Selasa (26/6).

Saham Shinsegae turun hingga 2,8 persen pada perdagangan pagi sebelum berbalik arah dan naik 1,7 persen pada pukul 01.16 GMT, sementara saham E-Mart naik 2,3 persen, dibandingkan dengan kenaikan 3,2 persen pada indeks referensi KOSPI.

Seorang pejabat Shinsegae mengatakan penjualan telah turun tajam sejak kontroversi pemasaran dan investigasi internal difokuskan pada apakah ada perencanaan alias kesalahan nan disengaja oleh manajemen alias karyawan.

"Meskipun penjualan bukan perhatian utama kami saat ini, kami telah memandang penurunan nan sangat signifikan," kata pejabat tersebut.

Tim e-commerce Starbucks Korea menyelenggarakan kampanye ini dan menerima persetujuan akhir dari para pemimpin tim dan eksekutif, kata pejabat tersebut.

Investigasi belum dapat menyimpulkan apakah ada kesalahan nan disengaja, tetapi kejadian tersebut mengungkap kelemahan serius dalam kerangka manajemen akibat Starbucks Korea, kata perusahaan itu.

Tim e-commerce terlalu konsentrasi pada penjualan di tengah banyaknya aktivitas promosi mingguan, nan menyebabkan staf menyetujui kampanye tersebut tanpa tinjauan nan tepat alias pengawasan hukum, katanya.

Kantor pusat dunia Starbucks di Amerika Serikat menyadari kesungguhan situasi tersebut dan telah menerima pembaruan tentang investigasi dan tanggapan perusahaan.

Starbucks adalah jaringan makanan dan minuman terkemuka di Korea Selatan dalam perihal perkiraan jumlah pengguna dalam enam bulan hingga Februari, menurut perusahaan info WISEAPP.

Shinsegae mengoperasikan Starbucks Korea melalui SCK Company, nan 67,5 persen sahamnya dimiliki oleh E-Mart dan 32,5 persen oleh biaya kekayaan negara Singapura, GIC, menurut pengajuan perusahaan.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News