loading...
Lego Donald Trump. FOTO/ CNET
TEHERAN - Iran dilaporkan semakin memimpin perang propaganda berbasis kepintaran buatan (AI), dengan produksi konten digital nan lebih efektif dan berpengaruh daripada narasi nan dibuat oleh Amerika Serikat.
Laporan tersebut menyatakan bahwa pendekatan propaganda oleh rezim di Timur Tengah sebelumnya dianggap kurang meyakinkan, terutama selama era bentrok konvensional.
Misalnya, selama Perang Irak 2003, Menteri Informasi Irak saat itu, Muhammad Saeed al-Sahaf, pernah membikin pernyataan nan bertentangan dengan realitas di lapangan, sehingga merusak kredibilitas propaganda nan disajikan.
Namun, dalam bentrok saat ini nan melibatkan Iran, pendekatannya telah berubah secara signifikan ketika teknologi AI digunakan untuk menghasilkan konten nan lebih kreatif, sinis, dan viral di media sosial.
Tim nan mendukung kepemimpinan Iran dilaporkan secara konsisten menerbitkan video propaganda satir terhadap Presiden AS Donald Trump, selain menampilkan narasi nan mengagungkan pihak nan menentang Washington.
Menurut para peneliti dari Institut Dialog Strategis, Joseph Bodner dan Krysia Sikora, setidaknya dua jaringan pro-Iran sukses mencapai lebih dari satu miliar penayangan di platform X dalam bulan pertama konflik, nan mencerminkan efektivitas strategi komunikasi digital nan digunakan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·