Proses Gila Joko Anwar, 40 Karakter Dibuat Full Backstory

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Proses Gila Joko Anwar, 40 Karakter Dibuat Full Backstory (Kanan ke kiri) Aming, Joko Anwar, Morgan Oey, Endy Arfian dalam Press Conference Ghost in the Cell, di Epicentrum, Jakarta (9/4/2026).(Dok MI)

FILM Ghost in the Cell datang sebagai horor-komedi satir nan memadukan unsur intermezo dan kritik sosial dalam satu paket cerita. Genre campuran ini membikin movie tidak hanya menuntut alur nan kuat, tapi juga karakter nan bisa menopang dinamika cerita nan berubah-ubah, dari tegang ke kocak dalam waktu cepat.

Dengan banyaknya tokoh nan muncul, tantangan terbesar bukan hanya menjaga alur tetap rapi, tapi juga memastikan setiap karakter punya peran nan terasa penting. Di sinilah pendekatan Joko Anwar menjadi poin krusial dalam proses produksinya.

Alih-alih membiarkan karakter sekadar datang sebagai pelengkap, Joko justru membangun fondasi nan jauh lebih dalam dari nan terlihat di layar.

40 Karakter, 40 Riwayat Hidup

Dalam sesi wawancara, Joko mengungkapkan bahwa setiap karakter dalam filmnya dibuat dengan perincian penuh, apalagi untuk karakter nan mungkin hanya muncul sekilas.

“Jadi kalo misalnya saya bikin film, saya bikin character sheet, jadi dia lahirnya kapan, pendidikannya kapan, internal fear-nya apa,” ujarnya.

Detail nan dia buat tidak berakhir di info dasar. Joko juga mengembangkan sisi emosional karakter, termasuk hubungan individual nan tidak selalu muncul di film.

“Bahkan aku, misalnya, nulis surat nan dia tulis ke ibunya. Walaupun di movie ga ada, tapi ini membantu dia mengetahui karakternya dan hubungannya dengan orangtua dia,” lanjutnya.

Pendekatan ini dilakukan untuk semua karakter tanpa pengecualian. Dalam satu film, jumlahnya bisa mencapai puluhan.

“Jadi kalo di movie kita ada 40 karakter, ya 40 kayak gini saya bikin,” kata Joko.

Artinya, setiap karakter baik utama maupun figuran diperlakukan sebagai perseorangan dengan latar belakang lengkap, bukan sekadar perangkat untuk menggerakkan cerita.

Proses Panjang nan Jarang Terlihat Penonton

Yang menarik, sebagian besar perincian nan dibuat Joko justru tidak muncul di layar. Penonton mungkin tidak pernah tahu kapan karakter lahir, gimana masa kecilnya, alias apa trauma nan membentuk dirinya. Namun, menurut Joko, justru di situlah kegunaan utama proses ini.

Ia memandang bahwa banyak karakter dalam movie sering terasa kosong lantaran hanya hidup saat cerita dimulai. Padahal, dalam kehidupan nyata, setiap manusia punya sejarah panjang sebelum momen nan terlihat.

“Kadang saya sering main movie juga, dan saya sering berpikir, saya siapa ya? Karena kehidupan saya dimulai ketika script dimulai. Padahal manusia itu kan hidupnya bukan sepotong,” jelasnya.

Dengan membangun latar belakang lengkap, tokoh dan tim produksi punya pegangan nan jelas untuk memahami karakter nan mereka perankan alias tampilkan.

Tidak Sekadar Peran, Tapi Manusia Utuh

Pendekatan ini membikin karakter dalam Ghost in the Cell tidak terasa datar. Bahkan karakter nan secara kegunaan cerita dianggap jahat tetap punya dimensi emosional. Joko menolak konsep karakter nan sepenuhnya hitam alias putih. Baginya, setiap tindakan kudu punya argumen nan berakar dari pengalaman hidup.

“Walaupun dia dianggap karakter evil, tapi dia karakter utuh, dia mengalami trauma,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa karakter tidak selalu punya niat untuk menjadi jahat, melainkan bereaksi terhadap emosi nan mereka rasakan.

“Jadi ketika dia melakukan seperti itu, dia tidak punya intention untuk jadi jahat. Tapi langkah dia untuk melepaskan frustasinya dia,” lanjutnya. Pendekatan ini membikin bentrok dalam movie terasa lebih manusiawi dan tidak klise.

Dampak ke Hasil Akhir Film

Hasil dari proses panjang ini terlihat pada gimana karakter berinteraksi di layar. Dialog terasa lebih natural, emosi lebih terasa, dan bentrok tidak terkesan dipaksakan.

Dalam movie dengan banyak karakter seperti Ghost in the Cell, metode ini menjadi pembeda nan signifikan. Penonton tidak hanya mengikuti alur cerita, tapi juga merasakan keberadaan tiap karakter, apalagi jika latar belakang mereka tidak dijelaskan secara eksplisit.

Pendekatan ini juga membantu menjaga keseimbangan tone movie nan kompleks. Saat cerita beranjak dari seram ke komedi, karakter tetap terasa konsisten lantaran sudah punya fondasi nan kuat sejak awal.

Pada akhirnya, nan dilakukan Joko bukan sekadar menulis skenario, tapi membangun bumi nan komplit di kembali layar. Dunia nan mungkin tidak sepenuhnya terlihat, tapi terasa dampaknya sepanjang movie berjalan.

Dengan langkah ini, Ghost in the Cell tidak hanya menawarkan cerita, tapi juga pengalaman menonton nan lebih dalam lantaran setiap karakter, sekecil apa pun perannya, diperlakukan sebagai manusia nan utuh. (Intan Safitri/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia