Pendukung Liverpool(AFP/Paul ELLIS)
STADION Anfield kemungkinan besar bakal menyuguhkan pemandangan berbeda saat Liverpool menjamu Fulham dalam laga Liga Primer Inggris, Sabtu (11/40 mendatang. Bukan lantaran sunyi peminat, melainkan lantaran tindakan protes besar-besaran nan digalang oleh golongan suporter ekstrem The Reds, Spirit of Shankly.
Melalui kampanye berjudul Not a Pound in the Ground, para pendukung setia The Reds diajak untuk tidak membelanjakan satu sen pun di dalam stadion. Sebagai gantinya, mereka didorong untuk membeli makanan dan minuman dari upaya lokal di sekitar area Anfield sebelum masuk ke tribun. Aksi ini merupakan respons keras terhadap keputusan manajemen klub nan meningkatkan nilai tiket untuk tiga musim ke depan.
Alasan di Balik Kemarahan Suporter
Pada akhir Maret lalu, manajemen Liverpool mengumumkan kebijakan kenaikan nilai tiket nan disesuaikan dengan Indeks Harga Konsumen (CPI) alias tingkat inflasi. Kebijakan ini menjadi preseden baru di Liga Primer Inggris lantaran untuk pertama kalinya sebuah klub mengumumkan kenaikan nilai tiket untuk beberapa musim sekaligus secara berturut-turut.
Bagi para suporter, langkah ini dianggap sebagai corak pemanfaatan loyalitas. Spirit of Shankly dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa klub telah mengabaikan penolakan dari pendukungnya sendiri.
"Ini bukan lagi soal konsultasi, tapi soal aksi. Jika dibiarkan, ini bakal menjadi preseden buruk, bukan hanya bagi Liverpool, tapi bagi seluruh ekosistem sepak bola," tulis pernyataan tersebut.
Berikut adalah rincian perkiraan kenaikan nilai tiket nan memicu protes tersebut:
| Tiket Terusan (Season Ticket) | £21.50 – £27.00 | Potensi kenaikan total hingga £100 |
| Tiket Per Pertandingan | £1.25 – £1.75 | Terus meningkat mengikuti inflasi (CPI) |
Pembelaan Klub vs Kritik Mantan CEO
Di sisi lain, manajemen Liverpool berkilah bahwa kenaikan ini diperlukan untuk menutup biaya operasional nan membengkak. Berdasarkan info internal klub, biaya operasional hari pertandingan telah melonjak 85% sejak musim 2016-17. Selain itu, biaya utilitas naik 107% dan pajak upaya meroket hingga 286% dalam empat tahun terakhir.
Namun, argumen ini dipatahkan oleh mantan CEO Liverpool, Christian Purslow. Ia menilai langkah mengasingkan suporter garis keras adalah strategi upaya nan buruk.
"Saya tidak mengerti kenapa tim nan menghasilkan pendapatan hingga £700 juta tetap memerlukan duit tambahan dari kantong suporter nan paling kesulitan secara ekonomi," ujar Purslow dalam sebuah podcast.
Data dari UEFA menunjukkan sungguh kuatnya posisi finansial Liverpool saat ini:
| Total Pendapatan Tiket Tahun Lalu | £120 Juta (Naik 27% YoY) |
| Rata-rata Pendapatan per Pertandingan | £4.5 Juta (Peringkat 8 di Eropa) |
| Rata-rata Pendapatan per Suporter | £74 per tiket |
| Target Tambahan dari Kenaikan Tiket | £1.5 Juta – £2 Juta |
Ancaman Bagi Seluruh Liga
Aksi protes di Anfield ini bukan sekadar urusan internal Liverpool. Thomas Concannon dari Football Supporters Association (FSA) memperingatkan bahwa klub-klub Liga Primer Inggris condong saling memantau kebijakan nilai satu sama lain. Jika Liverpool sukses menerapkan kenaikan multitahun tanpa perlawanan, klub lain kemungkinan besar bakal mengikuti jejak serupa.
Saat ini, gelombang protes suporter memang tengah meningkat di Inggris. Mulai dari protes pemindahan bangku di Manchester City dan Manchester United, hingga penghapusan potongan nilai tiket untuk lansia dan anak-anak di Tottenham Hotspur dan Nottingham Forest. Kampanye Stop Exploiting Loyalty kini menjadi seruan berbareng bagi para pendukung sepak bola di seluruh Inggris untuk melindungi organisasi mereka dari komersialisasi nan berlebihan. (bbc/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·