Qodari Resmi Dilantik Jadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Muhammad Qodari resmi dilantik menjadi Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI menggantikan Angga Raka Prabowo.

Acara pelantikan itu digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4).

Bakom RI merupakan badan nan baru dibentuk di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. Angga Raka menjadi orang pertama nan menakhodai badan ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum Bakom, ada badan serupa nan dibentuk di akhir kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, ialah Kantor Komunikasi Kepresidenan nan dinakhodai oleh Hasan Nasbi sebagai Kepala PCO.

Qodari bukanlah orang baru di lingkaran pemerintahan. Sebelum ini, dia merupakan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Posisi itu sekarang digantikan Jenderal Purn. Dudung Abdurachman.

Sebelum itu, dia juga menjabat Wakil Kepala KSP mendampingi A. M. Putranto sebagai Kepala KSP.

Sebelum masuk ke lingkaran pemerintahan, Qodari dikenal sebagai pengamat sekaligus peneliti politik. Ia merupakan pendiri lembaga survei Indo Barometer pada 2006 silam.

Sebelum mendirikan Indo Barometer, Qodari sempat menjadi Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Juli 2005-Oktober 2006 dan Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Juli 2003-Juni 2005.

Dalam kehidupannya di kancah politik nasional, Qodari mengambil bagian ke dalam Kelompok Relawan Jokowi-Prabowo (Jokpro) sebagai penasihat.

Saat itu, ramai rumor kedudukan tiga periode Presiden Jokowi. Relawan ini salah satu pihak nan mendukung wacana itu. Qodari sempat melempar wacana duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024.

"Buat saya bukan Jokowi tiga periode. Sebetulnya, saya membayangkan dan antisipasi bahwa Pemilu 2024 kelak capresnya itu berpasangan Jokowi dengan Prabowo. Jadi tepatnya Jokowi-Prabowo 2024, itu tagline saya. Saya proklamirkan nih, Jokowi-Prabowo 2024," kata Qodari.

Qodari mengungkapkan salah satu argumen mendukung Jokowi berpasangan dengan Prabowo saat itu guna menghindari potensi polarisasi politik di tengah masyarakat.

Ia cemas polarisasi politik seperti nan terjadi di Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, serta Pilpres 2019 kembali terulang.

(mnf/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional