Ramai Isu Kebocoran Data, Praktisi Sebut Keamanan Bank Sudah Berlapis

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Sistem keamanan di sektor perbankan Indonesia telah mempunyai pengawasan regulator nan ketat dan berlapis sejak lama. Foto: dok. Shutterstock.

Isu dugaan kebocoran info nan menyeret nama sejumlah lembaga perbankan belakangan ini memicu kekhawatiran publik. Namun, praktisi bumi digital Syahraki Syahrir menilai masyarakat tidak perlu panik berlebihan, karena secara umum sistem keamanan di sektor perbankan Indonesia termasuk salah satu nan paling kuat, terutama pada bank-bank besar.

Syahraki, nan juga CEO Veda Praxis, perusahaan konsultasi di bagian digital dan cyber security, menjelaskan bahwa industri perbankan merupakan salah satu sektor paling matang dalam mengelola keamanan teknologi informasi. Menurutnya, perihal ini tidak lepas dari pengawasan regulator nan ketat dan berlapis sejak lama.

“Selama ini pengawasan terhadap industri finansial dilakukan secara berlapis oleh beragam lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara, hingga Kementerian Komunikasi dan Digital. Seluruh regulator tersebut terus meningkatkan standar keamanan ke perbankan, serta melakukan edukasi kepada masyarakat dan pelaku industri,” ujarnya.

Terkait beredarnya info dugaan kebocoran info di dark web, Raki mengatakan info tersebut perlu dilihat secara hati-hati dan tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan. Ia menjelaskan, dark web merupakan bagian dari internet nan tidak terindeks secara umum dan kerap digunakan untuk aktivitas nan lebih bebas, termasuk penyebaran info terlarangan nan belum tentu terverifikasi kebenarannya.

Menurut Raki, ekosistem digital saat ini juga semakin kompleks. Sistem perbankan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan beragam pihak, mulai dari penyedia jasa teknologi, infrastruktur, hingga mitra pendukung lainnya. Karena itu, info nan beredar belum tentu berasal dari sistem inti perbankan.

“Kalaupun info di dark web itu benar, kita kudu meneliti sumber info tersebut berasal. Bisa jadi info berasal dari pihak ketiga nan terhubung dengan jasa bank. Jadi jangan langsung menyimpulkan banknya nan lemah. Hanya saja, memang, jika bank nan terdengar bocor, masyarakat langsung gempar lantaran ada duit mereka di sana,” kata Raki.

OJK Ingatkan Masyarakat Jaga Data Pribadi

Di sisi lain, OJK juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dalam menjaga info pribadi. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, meski perbankan telah menerapkan sistem keamanan berlapis, akibat kejahatan tetap bisa terjadi jika pengguna lalai melindungi info pribadinya.

“Meskipun bank telah menerapkan sistem keamanan berlapis dan memastikan kepatuhan terhadap izin perlindungan data pribadi, kejahatan tetap dapat terjadi jika pengguna tidak waspada alias lalai menjaga kerahasiaan info pribadinya,” kata Friderica pada rilis nan diterima kumparan, Minggu (24/5).

Perempuan nan berkawan disapa Kiki itu menambahkan, akibat kejahatan siber di industri jasa finansial semakin meningkat seiring semakin canggihnya modus pelaku. Di saat nan sama, literasi digital dan literasi finansial masyarakat tetap perlu terus diperkuat.

Raki juga menilai meningkatnya kejahatan siber merupakan akibat dari semakin luas dan kompleksnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika menerima telepon, pesan instan, tautan, alias permintaan info nan mengatasnamakan pihak tertentu, termasuk bank.

Ia menegaskan, info sensitif seperti password, PIN, dan OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Nasabah juga perlu waspada jika ada pihak nan meminta info pribadi melalui sambungan telepon maupun pesan digital.

“Password, PIN, dan OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Kalau ada pihak nan meminta info sensitif lewat telepon alias pesan digital, masyarakat kudu langsung waspada,” ujar penulis kitab Digital Governance tersebut.

Menurut Raki, perihal terpenting saat ini adalah membangun budaya kehati-hatian dalam aktivitas digital. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk melakukan verifikasi sebelum memercayai informasi, tautan, maupun permintaan tertentu nan diterima melalui kanal digital.

“Di era sekarang, kita kudu ekstra careful. Jangan mudah percaya pada telepon, pesan, alias tautan nan mengatasnamakan pihak tertentu, termasuk bank. Kalau perlu, lakukan transaksi dan komunikasi langsung melalui aplikasi resmi alias datang ke instansi cabang,” tutup Raki.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan