Rohman Wibowo
, Jurnalis-Senin, 18 Mei 2026 |21:46 WIB

ESDM berencana melakukan impor sekitar 100.000 tabung compressed natural gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram. (Foto ;okezone.com/Pertamina)
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan impor sekitar 100.000 tabung compressed natural gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram. Hal ini disiapkan untuk mengganti liquefied petroleum gas (LPG) tabung 3 kilogram dengan CNG.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa keputusan mengimpor produk tersebut didasari oleh belum memadainya penguasaan teknologi di tanah air. Hingga saat ini, hanya pabrikan asing nan dinilai bisa memproduksi tabung CNG dengan spesifikasi tersebut.
“Insya Allah tiga bulan ke depan kita melakukan first order untuk perihal tersebut. Untuk kita memesan material barangnya ini, kita enggak boleh pesan satu, kudu banyak, 100.000-an. Makanya jika ada nan nanya kok belum dibikin? Ya memang kudu di-order 100.000 alias di atasnya,” jelas dia, Senin (18/5/2026).
Laode menuturkan, belum mampunya industri dan teknologi domestik untuk merakit produk ini membikin pemerintah kudu memandang ke luar negeri, dengan China sebagai salah satu negara referensi utama pengembangan teknologinya.
Meski demikian, dia menggarisbawahi bahwa langkah mendatangkan tabung CNG dari luar ini murni dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pada fase awal saja. Pasalnya, pemerintah sudah menargetkan adanya proses transfer of technology agar bungkusan gas tersebut kelak bisa diproduksi secara berdikari di dalam negeri.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·