Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah tetap terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), apalagi sempat menembus level Rp 17.700 per US$. Di saat bersamaan, defisit neraca transaksi melangkah (current account deficit/ CAD) Indonesia pada kuartal I-2026 juga tembus hingga US$ 4 miliar alias 1,1% dari PDB pada kuartal I-2026. Ini adalah defisit terbesar sejak kuartal IV-2019.
Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi aspek dunia dan domestik. Terutama, derasnya arus keluar modal asing alias hot money outflow dari pasar finansial Indonesia.
Selain aspek global, penanammodal asing juga disebut tetap condong berhati-hati terhadap Indonesia di tengah banyaknya kebijakan baru nan dinilai memengaruhi proses bisnis, seperti pembentukan BUMN ekspor dan kebijakan DHE SDA terbaru.
"Jadi mereka condong cari kondusif di saat kondisi seperti ini. Apalagi kebijakan-kebijakan baru tersebut mempengaruhi proses bisnis. Lalu juga berikutnya adanya pemindahan likuiditas valas ya dari dalam negeri ke luar negeri," jelas Myrdal kepada CNBC Indonesia, Jumat (22/5/2026).
Tak hanya itu, para pelaku pasar juga mengantisipasi potensi arus keluar biaya asing mengenai keputusan lembaga indeks dunia seperti MSCI dan FTSE Russell.
Sementara aspek musiman seperti kebutuhan dividen dan musim haji dinilai hanya memberi tekanan sementara terhadap rupiah.
Di sisi lain, Myrdal menilai pelebaran defisit transaksi melangkah Indonesia belum mencerminkan pelemahan esensial eksternal ekonomi nasional.
Menurutnya, kenaikan defisit lebih banyak dipicu oleh meningkatnya aktivitas impor akibat penguatan aktivitas ekonomi domestik dan mahalnya nilai minyak dunia.
"Karena dari sisi impor kan memang ada kenaikan dikarenakan aktivitas ekonominya meningkat, sehingga memerlukan peralatan impor lebih banyak, lampau juga adanya aspek musiman lebaran, terus juga adanya permintaan valas nan lebih tinggi untuk bayar impor minyak nan lebih mahal, jadi itu," ujarnya.
Meski defisit transaksi melangkah melebar, Myrdal menilai beberapa komponen transaksi melangkah lainnya justru menunjukkan perbaikan.
Defisit primary income tercatat belum terlalu besar lantaran musim pembagian dividen belum terjadi pada kuartal pertama. Sementara secondary income mengalami kenaikan nan mencerminkan meningkatnya remitansi pekerja migran Indonesia. Selain itu, defisit pada pos jasa ekspor juga disebut mengalami penurunan.
Kendati belum memandang pelemahan esensial nan serius, Myrdal mengingatkan tekanan rupiah berpotensi menimbulkan akibat perlambatan ekonomi andaikan berjalan terlalu lama.
Menurutnya, pelemahan rupiah bisa membikin pelaku upaya menahan ekspansi lantaran biaya impor dan kembang semakin mahal.
"Jadi jika rupiahnya melemah, kita cemas shopping impor juga turun. Kalau shopping impor turun, berfaedah itu menjadi sinyal jika aktivitas ekonomi melambat. Dikarenakan pelaku upaya juga saat ini kesulitan untuk melakukan ekspansi di saat rupiah kita melemah. Lalu juga dari sisi biaya suku kembang juga kan sekarang naik ya. Jadi ini semakin mempersulit pebisnis untuk melakukan aktivitas ekspansi bisnis," ujarnya.
Perlu diketahui, nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026), dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk info Refinitiv, mata duit Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.690/US$ alias terdepresiasi 0,28% dan sempat tembus level Psikologisnya di Rp17.700/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.660/US$ hingga Rp17.725/US$.
Pelemahan ini sekaligus melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 0,23% di level Rp17.640/US$.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·