Rupiah Loyo, Barang-barang Ini Bisa Mahal hingga ke Desa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) memang betul secara literal. Namun melemahnya nilai tukar rupiah bakal mempengaruhi nyaris seluruh rantai nilai di dalam negeri, termasuk nan akhirnya dirasakan masyarakat desa.

Ronny mengatakan justru dalam perekonomian rakyat mini sering kali justru menjadi pihak paling akhir menyadari gejolak kurs, tetapi paling sigap merasakan akibat kenaikan harga.

"Masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi memakai dolar, tetapi pupuk, BBM, logistik, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, apalagi sebagian bahan pangan sangat dipengaruhi kurs," ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (17/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi jika konteksnya mau menenangkan publik, dalam irit saya, narasi seperti itu justru berisiko menyederhanakan persoalan nan sebenarnya jauh lebih kompleks," katanya.

Dari pernyataan tersebut, Ronny menyebut ada sejumlah akibat nan ditimbulkan. Pertama, akibat psikologis pasar di mana Investor sangat sensitif terhadap komunikasi pejabat tinggi negara.

"Kalau komunikasi dianggap meremehkan tekanan rupiah, pasar bisa membaca bahwa respons kebijakan tidak bakal garang alias tidak cukup serius. Artinya, itu bisa memperbesar tekanan terhadap rupiah dan arus modal keluar," ujarnya.

Kedua, akibat terhadap kepercayaan publik. Ronny mengatakan masyarakat saat ini jauh lebih peka terhadap nilai kebutuhan pokok dibanding beberapa tahun lalu. Jadi ketika rakyat merasakan nilai naik tetapi elite memberi kesan tidak terlalu berdampak, bisa muncul jarak persepsi antara pemerintah dan kondisi riil masyarakat.

"Dalam ekonomi, trust sama pentingnya dengan persediaan devisa. Sekali kepercayaan publik menurun, efeknya bisa panjang," katanya.

Ketiga, akibat terhadap ekspektasi inflasi. Ia menilai pernyataan nan terlalu simplistis dapat membikin pemerintah terlihat defensif, padahal nan dibutuhkan pasar justru pengakuan realistis bahwa pelemahan rupiah memang serius dan kudu dijaga bersama.

Menurutnya, penanammodal biasanya lebih tenang terhadap pemimpin nan mengakui tantangan secara terbuka dibanding nan terkesan mengecilkan masalah.

"Karena pada akhirnya, nan dibutuhkan pasar bukan hanya kalimat nan menenangkan, tetapi kepercayaan bahwa pemerintah punya strategi nan kredibel. Dalam situasi seperti sekarang, komunikasi ekonomi kudu sangat hati-hati. Salah narasi sedikit saja, pasar bisa bereaksi lebih sigap daripada rapat koordinasi," terangnya.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah semestinya mulai menyiapkan skenario mitigasi, bukan justru terkesan menantang situasi tanpa persiapan.

"Di Indonesia ini seolah justru menantang, tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap dan komunikasi seperti ini sangat sangat membahayakan lantaran masyarakat seolah dibuat tenang tapi tidak siap dengan sudden shock. Pemimpin di negara lain justru menyiapkan skenario terburuk lantaran pengaruh perang tetap panjang," katanya.

Ia mengingatkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai sekitar 7% dalam satu tahun terakhir. Menurutnya kondisi itu menjadi sirine nan perlu dicermati serius lantaran bisa berakibat terhadap investasi dan ketenagakerjaan.

"Itu semua tinggal menunggu waktu saja sampai harga-harga bakal menekan di pedesaan dan jangan salah juga, jika rupiahnya terus melemah terhadap dolar, PHK massal, desa itu bakal dibanjiri oleh mereka nan jadi korban PHK di perkotaan kembali lagi ke desa tapi tidak berkerja, dan tidak berpenghasilan kan itu bakal jadi beban desa," ujarnya.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance