Ilustrasi(Antara)
NILAI tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis, turun 78 poin menjadi Rp17.090 per dolar AS, seiring sikap wait and see pelaku pasar terhadap kepastian penerapan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia menilai pelemahan mata duit Garuda dipengaruhi sikap menunggu pelaku pasar terhadap kepastian penerapan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
"Pasar tetap menunggu kepastian penerapan kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis daya global," ucapnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Mengutip Anadolu, Amerika Serikat sebelumnya menerima proposal berisi 10 poin nan menjadi dasar negosiasi untuk mengakhiri konflik. Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) melaporkan proposal tersebut mencakup agunan tidak adanya agresi terhadap Iran, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan kewenangan Teheran dalam pengayaan uranium, serta pencabutan seluruh hukuman utama dan sekunder AS.
Selain itu, proposal juga memuat penghentian resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran, pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian permusuhan di beragam front, termasuk di Lebanon.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan pembicaraan tersebut belum menandai berakhirnya perang. Setiap kesepakatan akhir, menurut mereka, berjuntai pada terpenuhinya seluruh syarat Iran serta penyelesaian teknis secara rinci.
Selama periode negosiasi, jalur kondusif melalui Selat Hormuz disebut bakal dijamin melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.
Namun situasi geopolitik tetap memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di area Dahiyeh, Beirut selatan, Lebanon. Militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 letak dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dengan total korban wafat mencapai 254 orang.
Mengutip Sputnik, Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (8/4) menyatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran dan menyebut rumor tersebut sebagai "kesalahpahaman".
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menegaskan bentrok di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan lantaran melibatkan golongan Hizbullah dan dinilai sebagai "bentrokan terpisah."
"Meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, pasar menilai dampaknya tetap berkarakter sementara dan belum bisa memberikan sentimen risk-on nan kuat," ungkap Tiffani.
Ia menambahkan tekanan utama berasal dari ketidakpastian area Asia Barat, terutama mengenai kondisi Selat Hormuz nan belum sepenuhnya normal. Situasi tersebut menjaga nilai minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah.
"Sementara itu, dari sisi domestik, sentimen terhadap rupiah tetap condong terbatas. Beberapa aspek seperti melambatnya keahlian ekspor, tekanan terhadap persediaan devisa akibat intervensi, serta kekhawatiran terhadap fiskal dan defisit anggaran turut menahan penguatan rupiah," kata dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari nan sama juga tercatat melemah ke level Rp17.082 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.009 per dolar AS. (Ant/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·