Presiden Prabowo Subianto.(Dok Setpres)
NILAI tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (20/5), usai Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI. Pasar merespons positif sasaran pertumbuhan ekonomi pemerintah nan dipatok cukup tinggi pada 2027.
Pengamat pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, optimisme pasar muncul setelah pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8% hingga 6,5% pada 2027.
“Pada perdagangan sore ini, mata duit rupiah ditutup menguat 52 poin, setelah sebelumnya sempat melemah 25 poin menjadi Rp17.653 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (21/5) tetap bakal naik turun dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tujuh tahun terakhir berada di level 5%. Namun, dia mengakui tetap terdapat tantangan berupa penurunan kelas menengah dan meningkatnya nomor kemiskinan. Pemerintah juga menargetkan inflasi berada di kisaran 1,5% hingga 3,5% pada 2027.
Dari sisi dugaan makro, pemerintah menetapkan sasaran nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, dengan suku kembang Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,5% hingga 7,3%. Sementara itu, dugaan nilai minyak mentah Indonesia dipatok pada level US$70 hingga US$90 per barel.
Pemerintah juga menargetkan lifting minyak mentah sebesar 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari, serta lifting gas bumi sebesar 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari. Dari sisi fiskal, pendapatan negara pada 2027 diproyeksikan berada di kisaran 11,82% hingga 12,40% terhadap PDB, sedangkan shopping negara ditargetkan 13,62% hingga 14,80% terhadap PDB. Adapun defisit APBN dijaga di kisaran 1,8% hingga 2,4% terhadap PDB.
Selain sentimen domestik, Ibrahim menjelaskan, penguatan rupiah juga dipengaruhi keputusan Bank Indonesia nan meningkatkan suku kembang referensi BI Rate sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25%. Suku kembang Deposit Facility naik menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6,25%. Keputusan tersebut mengakhiri kebijakan BI nan mempertahankan suku kembang selama delapan bulan berturut-turut.
Bank Indonesia menyatakan langkah tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi dunia akibat bentrok di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026-2027 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.
Dari eksternal, Ibrahim menilai pasar tetap mencermati perkembangan bentrok di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan perang dengan Iran bakal segera berakhir, meski pelaku pasar tetap waspada terhadap hasil perundingan tenteram dan dampaknya terhadap pasokan daya global.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan, dengan kedua pihak sama-sama tidak menginginkan bentrok militer kembali pecah. Namun, pernyataan Trump nan sempat membuka kemungkinan serangan baru terhadap Iran tetap memicu kekhawatiran pasar.
Menurut Ibrahim, perang di area tersebut telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz nan selama ini menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
“Pasar tetap waspada terhadap akibat inflasi dari perang Iran dalam beberapa minggu terakhir,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, lonjakan nilai minyak mentah berpotensi mendorong inflasi dunia lebih tinggi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama dunia, terutama Federal Reserve, tetap berkesempatan meningkatkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar sekarang memperkirakan nyaris 50 persen kesempatan The Fed meningkatkan suku kembang setidaknya 25 pedoman poin hingga akhir tahun, meningkat dibandingkan sekitar 35% pada pekan sebelumnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·