loading...
Kecerdasan buatan nan selama ini membantu Anda merangkum dokumen, sekarang resmi direkrut menjadi bagian dari mesin intelijen militer. Foto: Reuters
AMERIKA - OpenAI akhirnya terpaksa mengubah kesepakatan nan mereka jalin dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) mengenai penggunaan kepintaran buatan (AI) untuk operasi militer rahasia.
CEO OpenAI, Sam Altman, pada hari Senin menyatakan pihaknya bakal menambahkan klausul nan secara tegas melarang sistem mereka digunakan untuk memata-matai penduduk negara AS.
Revisi ini juga memastikan bahwa lembaga intelijen seperti National Security Agency (NSA) tidak bisa menggunakan sistem OpenAI tanpa adanya modifikasi perjanjian lanjutan.
Privasi info adalah komoditas nan sangat sensitif. Publik secara otomatis menolak teknologi nan disinyalir terafiliasi dengan pengawasan massal pemerintah.
Hal ini terbukti dari info perusahaan intelijen pasar Sensor Tower nan mencatat bahwa tingkat rata-rata harian penghapusan (uninstall) aplikasi ChatGPT melonjak tajam hingga 200 persen dari tingkat normal, tepat setelah kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS ini diumumkan pada hari Jumat.
Melalui platform X, Altman mengakui bahwa perusahaannya melakukan kesalahan lantaran terburu-buru merilis info tersebut.
"Kami betul-betul mencoba meredakan situasi dan menghindari hasil nan jauh lebih buruk, tetapi saya pikir itu justru terlihat oportunistis dan ceroboh," akunya, seraya menyebut rumor ini menuntut komunikasi nan jelas.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·