Mal ramai dan kafe penuh bukan tanda ekonomi baik-baik saja. Bisa jadi itu tanda sesuatu nan jauh lebih mengkhawatirkan.
Seorang wanita muda berdiri di antrean warung kopi. Sudah dua puluh menit. Ia tahu nilai segelas cold brew itu setara dengan tiga kali ongkos ojek pulang-pergi. Ia juga tahu bahwa bulan ini gajinya belum naik, sementara nilai beras dan telur sudah naik duluan. Tapi dia tetap berdiri di sana dan itu bukan lantaran dia bodoh, alias boros, alias tidak tahu diri.
Itu lantaran dia lelah. Dan segelas kopi adalah satu-satunya kemewahan nan tetap terasa dalam jangkauan.
Di sinilah titik masuk nan sering terlewat dari perdebatan soal lipstick effect nan belakangan ramai diperbincangkan. Media ramai membahas fenomenanya: mal penuh, kafe ramai, antrean mengular, sembari bertanya-tanya apakah ini bukti bahwa ekonomi Indonesia "baik-baik saja." Tapi pertanyaan nan lebih krusial bukan soal apakah mal ramai. Pertanyaannya adalah: kenapa orang tetap ke mal, meski segalanya terasa makin berat?
Latar Belakang nan Tidak Sederhana
Rupiah menyentuh Rp17.598 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026: level terlemah dalam sejarah. PMI Manufaktur Indonesia berada di bawah 50, menandakan kontraksi di sektor produksi. PHK massal melanda sektor tekstil, elektronik, dan startup. Data BPS menunjukkan sekitar 10 juta orang turun dari kelas menengah ke kelas bawah sejak 2019 hingga 2024.
Di saat bersamaan, pengguna paylater melonjak 86,7 persen secara tahunan hingga menembus Rp56,3 triliun per Februari 2026. NPL (non-performing loan) alias angsuran macet jasa itu memperkuat di atas 5 persen. Rata-rata satu debitur sekarang memegang tujuh akomodasi paylater aktif di beragam lembaga keuangan.
Itulah potret sesungguhnya di kembali antrean panjang itu.
Lipstik Bukan Kemewahan, Ia adalah Pelarian
Istilah lipstick effect pertama kali muncul dari pengamatan Leonard Lauder dari Estée Lauder pada 2001, tepat setelah resesi AS pascatragedi 9/11. Ia menemukan bahwa penjualan lipstik justru naik saat ekonomi memburuk. Hipotesisnya: ketika orang tidak bisa membeli "kemewahan besar" seperti mobil alias liburan, mereka beranjak ke "kemewahan kecil" nan tetap terasa terjangkau seperti kosmetik, parfum, kopi, makan di luar.
Di Indonesia 2026, kejadian itu datang dalam bentuk nan lebih kompleks.
LPEM FEB UI sudah mencatatnya secara empiris: proporsi pengeluaran masyarakat untuk kosmetik dan perawatan pribadi meningkat dari 1,14 persen pada 2019 menjadi 1,27 persen pada 2024, perihal ini justru di tengah penurunan daya beli. Tapi jangan berakhir di situ. nan terjadi bukan sekadar orang membeli lipstik. nan terjadi adalah orang membeli rasa normal; sesuatu nan membikin hari terasa tidak terlalu berat.
Ini bukan sekadar self-reward. Para psikolog menyebutnya doom spending: shopping sebagai sistem pelarian dari kecemasan, bukan lantaran butuh, tapi lantaran tidak tahu kudu melampiaskan tekanan ke mana.
Dan kekhawatiran itu punya argumen nan sangat nyata: nilai rumah jauh dari jangkauan, lapangan kerja umum makin sempit, dan masa depan terasa tidak pasti. Jika menabung pun tidak bakal cukup untuk beli rumah, maka bagi sebagian anak muda, argumen "untuk apa menabung" terasa masuk logika secara emosional, meski rawan secara finansial.
Mal Ramai, Tapi Oleh Siapa?
Di sinilah perspektif pandang nan sering luput: keramaian mal bukan cermin dari seluruh Indonesia.
Ambil contoh nan lebih dekat dari Jakarta. Di Bandar Lampung, mal Bumi Kedaton pada akhir pekan selalu tampak ramai: gerai kopi penuh, food court berdesakan, area intermezo tak pernah sepi. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, sebagian besar pengunjungnya bukan kalangan pengusaha alias ahli bergaji tinggi. Banyak di antara mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai pemerintah nan gajinya, jujur saja, tidak terlampau besar. Pas untuk hidup, kurang untuk bermewah-mewah. Tapi mereka tetap ada di sana, seminggu sekali, alias apalagi lebih sering.
Bukan lantaran mereka kaya. Tapi lantaran Bumi Kedaton adalah satu-satunya "dunia lain" nan tetap terasa terjangkau; tempat di mana untuk beberapa jam, tekanan pekerjaan, beban cicilan, dan ketidakpastian ekonomi bisa sejenak dilupakan di kembali segelas kopi dan putaran eskalator.
Fenomena ini bukan unik Lampung. Ia terjadi di mal-mal kota menengah di seluruh Indonesia. nan berbeda hanya namanya: Transmart Palembang, Hartono Mall Yogyakarta, alias mal mana pun nan menjadi "tempat pergi" ketika tidak ada tempat lain nan terasa kondusif untuk sekadar bernafas.
Survei Katadata Insight Center (KIC) mencatat 56,6 persen Gen Z jarang alias tidak pernah menabung sejak awal, dan lebih mendahulukan pembelian peralatan daripada menyisihkan uang. Data LPS memperkuat gambarannya: rata-rata tabungan pengguna rumah tangga nan pada akhir 2024 tetap di kisaran Rp4,16 juta, ambruk ke hanya Rp1,7 juta pada awal 2025; penurunan nyaris setengahnya dalam waktu kurang dari satu semester. Sementara itu, jumlah saldo rekening golongan terkaya tumbuh 10,4 persen secara tahunan. Jurang itu bukan melebar perlahan, dia melebar cepat.
Artinya: nan terlihat ramai di mal adalah segmen tertentu dan seringkali bukan segmen nan keuangannya sedang baik-baik saja. Justru sebaliknya. Sementara di luar sana, jutaan orang sedang diam-diam mengencangkan ikat pinggang, beranjak ke merek nan lebih murah, memilih bungkusan mini nan lebih terjangkau, alias nan paling mengkhawatirkan mulai menggali lubang baru berupa utang paylater untuk menutup lubang lama.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia menyebutnya dengan tepat: ini bukan tanda konsumsi sedang kuat. Ini adalah sinyal kehati-hatian nan berpakaian keramaian.
Mengapa Indonesia Lebih Rentan dari Teorinya
Lipstick effect jenis Indonesia bukan sekadar salinan dari teori Leonard Lauder. Ada tiga lapisan nan membuatnya lebih pelik:
Pertama, media sosial sebagai mesin kebutuhan baru.
Di era Estée Lauder, orang membeli lipstik lantaran mau. Di era TikTok dan Instagram, orang membeli lantaran algoritma membacamu di momen paling rentan; malam setelah buletin PHK, siang setelah bentrok soal tagihan, pagi setelah memandang postingan liburan teman. Fear of missing out (FOMO) bukan sekadar psikologi; dia sekarang adalah sistem upaya nan terstruktur.
Kedua, paylater sebagai pintu nan terlalu mudah dibuka.
Suku kembang tinggi, tabungan tipis, tapi pintu konsumsi selalu terbuka. Paylater tumbuh 86,7 persen dalam setahun. Pertumbuhan P2P lending apalagi mencapai 153,49 persen. Orang tidak perlu punya duit untuk berbelanja, mereka cukup punya handphone dan aplikasi. Ini berbeda secara esensial dari pola lipstick effect klasik, di mana orang shopping dengan duit nan memang ada, hanya dialihkan ke peralatan lebih murah.
Ketiga, downtrading nan tersembunyi di kembali keramaian.
Yang tidak terlihat di foto artistik kafe adalah bahwa sebagian visitor itu beranjak dari restoran mahal ke kafe nan lebih terjangkau, dari branded coffee ke kopi lokal, dari shopping bulanan penuh ke bungkusan sachet. Ini bukan konsumsi nan kuat; ini adalah konsumsi nan bertahan.
Kapan Alarm Berubah Menjadi Krisis?
Guru Besar FEB UI Budi Frensidy mengingatkan bahwa lipstick effect sendiri bukan bukti krisis. Ia adalah sirine kecil. Alarm itu baru berubah menjadi sesuatu nan lebih serius ketika tabungan mulai terkuras, utang konsumtif naik, angsuran macet paylater meningkat, dan konsumsi peralatan tahan lama melemah.
Dari keempat parameter itu, tiga di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
NPL paylater memperkuat di atas 5 persen. Tabungan kelas bawah terus menipis. Gaikindo memasang sasaran 850.000 unit penjualan mobil untuk 2026, naik dari realisasi 2025 nan hanya 803.687 unit. Tapi keahlian awal tahun belum meyakinkan: penjualan Maret 2026 turun 13,8 persen secara tahunan. nan belum tersungkur besar adalah konsumsi secara agregat, tapi konsumsi agregat adalah nomor rata-rata nan bisa menyembunyikan kesengsaraan di satu sisi dan kemewahan di sisi lain.
Yang Paling Berbahaya adalah Salah Membaca
Sejarah punya catatannya sendiri. Jepang di era Lost Decade 1990-an: restoran tetap ramai, tapi ekonomi stagnan selama sepuluh tahun. Indonesia sendiri, menjelang krisis 1998, tetap ada nan shopping di mal sebelum rupiah runtuh dari Rp5.000 ke Rp17.000 dalam hitungan bulan.
Keramaian di permukaan tidak selalu berfaedah fondasi nan kuat.
Bahaya terbesar dari lipstick effect bukan pada kejadian itu sendiri. Bahaya terbesarnya adalah ketika pemerintah, pelaku pasar, dan pengambil kebijakan salah membaca info mikro nan tampak aktif sebagai bukti bahwa segalanya baik-baik saja, lampau mengendurkan kewaspadaan di saat nan justru paling kritis.
Kembali ke Perempuan di Antrean Kopi
Perempuan tadi akhirnya mendapat kopinya. Ia duduk sebentar, membuka ponsel, scroll media sosial, lampau pergi. Mungkin dia tersenyum sejenak. Mungkin dia lupa sejenak bahwa tagihan listrik belum dibayar dan angsuran paylater-nya sudah masuk bulan ketiga.
Tidak ada nan salah dengan segelas kopi. nan salah adalah saat kita sebagai masyarakat, sebagai pengambil kebijakan, sebagai media memandang antrean panjang itu lampau menyimpulkan bahwa semua orang baik-baik saja.
Mal nan ramai bisa berfaedah dua perihal nan bertolak belakang: ekonomi nan sehat, alias masyarakat nan sedang minum obat pereda nyeri sembari menunda ke dokter.
Saat ini, tanda-tanda mengarah ke nan kedua.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·