Jakarta -
Malaysia bakal mengimpor beras premium dari Indonesia 500 ribu ton. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan saat ini transaksi tersebut tinggal menunggu negosiasi harga. Proses obrolan lanjutan bakal segera dilakukan untuk memastikan skema pengiriman beras ke Malaysia.
"Untuk potensi ekspor sesuai dengan pertemuan kemarin di Surabaya dengan delegasi dari Sarawak, Malaysia, Alhamdulillah sudah ada kesepakatan. Jadi mereka sudah bakal mengimpor dengan jumlah nan lumayan, sekitar 500 ribu (ton)," ujar Rizal saat ditemui di area Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
"Ini tinggal negosiasi nilai sudah nyaris fix," tegasnya menekankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulog berencana mengirim tim ke Sarawak untuk membahas teknis distribusi. Opsi pengiriman nan dibahas mulai dari skema port to port alias pengiriman melalui pelabuhan hingga pengedaran darat melalui Kalimantan Barat dan Entikong.
"Kami bakal memberangkatkan salah satu kepala kami untuk obrolan ulang di Sarawak, untuk memastikan pengirimannya port to port, alias hanya nyebrang lewat Kalimantan Barat. Dari penyimpanan Pontianak nyebrang masuk sampai Entikong, dari Entikong langsung ke Sarawak. Nanti konsepnya seperti apa bakal didiskusikan di Sarawak," jelas Rizal.
Tawaran Harga dari Malaysia
Rizal mengatakan penawaran awal dari pihak Malaysia berada di kisaran Rp 16 ribu per kilogram alias sekitar 3,7 ringgit Malaysia. Harga tersebut bertindak untuk beras premium dengan tingkat pecahan 5%.
Dia menilai nilai Rp 16 ribu per kilogram sudah tergolong baik, meskipun pihaknya tetap berambisi angkanya bisa lebih tinggi.
Rizal menyebut ada perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menjual beras terlalu murah. Selain itu, bakal ada obrolan dengan Menteri Pertanian, Amran Suilaiman untuk menentukan harga.
"Dari pihak Malaysia adalah sekitar Rp 16 ribu, alias 3,7 ringgit.Nah ini penawaran awal dari Malaysia sekitar Rp 16 ribu, beras premium dengan pecahan 5%.Ini sesuai dengan pengarahan Pak Presiden juga kami diperintahkan jangan jual terlalu murah. Jadi jual nan betul-betul menguntungkan petani, bangsa, dan negara," tutup Rizal.
(ily/hal)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·