Perempuan pesisir Rembang memproduksi rengginang laut.(Dok.Istimewa)
PERINGATAN Hari Kartini tidak lagi dimaknai sebatas simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai refleksi atas ketangguhan, keberanian berpikir terbuka, dan semangat pantang menyerah di tengah keterbatasan.
Musim pancaroba tetap ditandai dengan guyuran hujan di sejumlah wilayah di Pantura Jawa Tengah, namun itu tidak menyurutkan semangat perempuan-perempuan di area pesisir Kabupaten Rembang untuk berkarya, semangat emansipasi diwariskan RA Kartini terasa dari tangan para wanita menciptakan aktivitas hingga bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
Masih ingat sebuah cerita, ketika lebaran di pedesaan, beragam suguhan tersedia untuk para tamu mulai jajanan, jenis makanan berat hingga ringan dan tidak ketinggalan sebuah kaleng biskuit tampak tertutup rapat di meja, namun di tengah obrolan ketika mencoba membuka kaleng untuk mencicipi biskuit rupanya berisi rengginang.
Makanan membikin kejutan lantaran berbeda wadah dengan isinya ialah rengginang merupakan sejenis kerupuk tebal nan terbuat dari beras ketan nan dibentuk bulat dan dikeringkan dengan langkah dijemur di bawah panas mentari lampau digoreng merupakan makanan unik nan banyak di ikmati dan disukai.
RENGGINANG KHAS PESISIR
Rengginang unik diproduksi di area pesisir Pantura di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan dari area lainnya, lantaran di sini makanan renyah dan gurih terasa ada rasa ikan merupakan hasil laut nan menjadi komoditas penduduk di area pesisir nan umumnya berprofesi nelayan.
Produksi makanan Rengginang Laut merupakan hasil olahan laut ialah sebuah hasil karya kreatifitas dan kreasi serta penemuan perempuan-perempuan di Pesisir Rembang sekarang telah berkembang cukup pesat, salah satunya dikembangkan Eko Purwanti, pengguna Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Pati.
Dari upaya sederhana ini, Eko Purwanti tidak hanya berupaya menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga, tetapi juga menghadirkan faedah bagi lingkungan sekitar lantaran turut aktif dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak nan memerlukan perhatian gizi, sekaligus pemberdayaan wanita di wilayah pesisir untuk bersama-sama memproduksi rengginang olahan laut.
“Saya berambisi upaya ini bisa terus berjalan, lantaran bukan hanya untuk menghidupi family tapi juga agar ibu-ibu di sekitar saya bisa ikut merasakan punya penghasilan, pelan-pelan kita saling menguatkan, semangat berbareng dari hasil olahan laut dan mau maju bersama." ujar Eko Purwanti.
KARTINI MASA KINI
Semangat nan ditunjukkan Eko Purwanti berbareng para wanita di area pesisir ini, mencerminkan nilai Kartini masa kini, lantaran dalam keterbatasan tetap melangkah dan membuka ruang bagi wanita lain untuk tumbuh dan berkarya nyata berbareng membangun kesejahteraan keluarga.
Perempuan berjulukan Eko Purwanti bukan hanya pengusaha, tetapi juga penggerak para perempuanyang menghadirkan perubahan nyata di lingkungannya melalui pendekatan klasterisasi upaya hasil olahan laut nan menguatkan kebersamaan dan mendorong pertumbuhan bersama.
Melalui pendekatan pemberdayaan berbasis tiga modal ialah intelektual melalui training usaha, finansial melalui akses pembiayaan, serta sosial melalui penguatan kelompok, PT PNM nan telah melayani lebih dari 22,9 juta pengguna wanita di seluruh Indonesia, mendampingi wanita agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
UPAYA PEMBERDAYAAN
Sekretaris Perusahaan PNM Lalu Dodot Patria Ary mengatakan upaya pemberdayaan wanita di wilayah pesisir menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan kebermanfaatan nan lebih luas untuk tumbuh dan berkekuatan dan melalui hasil olahan laut ini para wanita di pesisir tidak hanya berkekuatan secara ekonomi, tetapi juga tumbuh bersama.
"Kami datang mendampingi ibu-ibu di pesisir untuk tumbuh dan berdaya, salah satunya adalah Eko Purwanti berbareng para wanita di area Pesisir Rembang ini," kata Lalu Dodot Patria Ary.
Melalui hasil olahan laut, mereka tidak hanya berkekuatan secara ekonomi, namun juga memberdayakan sesama dan tumbuh bersama,” ujar Dodot.
Kisah Eko Purwanti menjadi gambaran bahwa semangat Kartini tidak berakhir pada masa lalu, tetapi terus hidup dalam langkah wanita nan berani mencoba, berbagi dan menguatkan satu sama lain. "Pendampingan nan berkepanjangan menjadi bagian krusial agar setiap upaya mini dapat berkembang menjadi akibat nan lebih besar," tambahnya. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·