SMA Pontianak Tolak Ikut Cerdas Cermat Ulang MPR, Dukung SMA Sambas

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI memutuskan bakal menggelar ulang final Lomba Cerdas Cermat (LCC) antar SMA di Kalimantan Barat (Kalbar) buntut polemik penjurian nan viral dan menjadi sorotan lantaran sikap majelis juri nan berasal dari kesekretariatan MPR.

Namun, SMAN 1 Pontianak lewat pernyataan resmi menegaskan tetap menghormati hasil lomba nan telah ditetapkan dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar di tingkat nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba nan telah ditetapkan serta menyampaikan support penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada arena LCC 4 Pilar tingkat nasional," kata Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/5) dikutip dari detikKalimantan.

Indang menegaskan SMAN 1 Pontianak sejak awal menegaskan tak pernah berambisi membatalkan hasil perlombaan. Menurut Indang, langkah nan dilakukan semata-mata untuk meminta penjelasan mengenai proses penilaian dalam final lomba.

Adapun protes nan dilakukan anak didiknya saat perlombaan, lampau ditindaklanjuti setelahnya yang kemudian viral adalah untuk mendapatkan penjelasan nan jelas.

"SMAN 1 Pontianak tidak mempunyai maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui penjelasan terhadap poin-poin nan dipersoalkan," katanya.

Lanjut Indang, SMAN 1 Pontianak tidak bakal terlibat andaikan lomba LCC tingkat Kalbar 2026 diulang seperti nan telah disampaikan MPR RI pekan ini.

"SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak bakal terlibat dalam penyelenggaraan lomba LCC nan diulang," tegasnya.

Pihak sekolah juga menegaskan upaya nan dilakukan bukan untuk menyerang alias menjatuhkan kredibilitas lembaga maupun perseorangan tertentu.

"Langkah nan dilakukan bukan merupakan upaya untuk menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara lomba, maupun perseorangan tertentu," ujarnya.

Selain itu, pihak SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi atas support masyarakat selama polemik berjalan dan meminta maaf atas kegaduhan nan terjadi.

"SMAN 1 Pontianak memohon maaf atas kegaduhan nan terjadi, serta membujuk semua pihak untuk menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan," ucapnya.

Pihak sekolah juga membujuk seluruh pihak menjaga suasana pendidikan nan kondusif, aman, dan nyaman bagi semua peserta didik.

"Sampai bertemu di LCC 4 Pilar 2027," katanya.

Diketahui, polemik Final LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar menjadi perhatian publik usai viralnya video penilaian juri terhadap peserta SMAN 1 Pontianak. Kontroversi itu memicu protes dari peserta, alumni, hingga masyarakat dan berujung pada permintaan maaf serta komitmen pertimbangan dari MPR RI.

Banner Microsite Haji 2026

Keputusan gelar ulang lomba pandai cermat

Setelah viral dan jadi perbincangan selama beberapa hari ini, sebelumnya MPR   memutuskan bakal menggelar ulang final pandai jeli empat pilar antar SMA di tingkat Kalbar.

Keputusan itu disampaikan langsung oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dalam bertemu pers di kompleks parlemen, Jakarta Rabu (13/5).

Muzani menegaskan pihaknya telah mengambil keputusan dan telah mengevaluasi kasus tersebut.

"Lomba pandai jeli (LCC) di tingkat Kalimantan Barat nan final bakal kita lakukan ulang," kata Muzani kala itu.

Namun, Muzani belum mengungkap waktu penyelenggaraan ulang lombanya. MPR memastikan bakal digelar dalam waktu dekat.

Selain itu, Muzani mengatakan pihaknya juga telah memutuskan dalam final ulang, juri bakal dipilih secara independen di luar Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR. Mereka bakal diambil dari unsur akademisi di wilayah Kalimantan Barat.

"Juri nan bakal menjuri dalam Lomba Cerdas Cermat tersebut adalah juri independen," katanya.

Insiden viral dalam final lomba pandai jeli Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalbar itu bermulai saat majelis juri memberi nilai berbeda terhadap jawaban nan sama oleh regu B dan C dalam pertanyaan rebutan.

"Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi personil BPK, keterkaitan dengan perwakilan wilayah tetap dijaga. DPR dalam memilih personil BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya pembawa aktivitas dikutip dari YouTube MPR, Senin (11/5).

Grup C dari SMAN 1 Pontianak nan menekan bel terlebih dulu menjawab bahwa 'Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden'

Namun, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita selaku majelis juri memberi nilai -5 alias menyalahkan jawaban Grup C itu.

Pertanyaan itu kemudian dilempar kembali ke peserta lain, dan dijawab regu B dengan memberikan jawaban nan sama.

Mendengar jawaban Regu B, juri membenarkan memberikan 10 poin.

Peserta di Regu C nan memberikan jawaban lebih dulu pun meminta izin untuk menyampaikan keberatan. Mereka menunjukkan ekspresi bingung lantaran jawabannya disalahkan meski sama.

Namun, Dyastasita tetap bersikeras, dan berdasar jawaban regu C tidak menyertakan Dewan Perwakilan Daerah alias DPD.

Grup C pun kembali memprotes. Josepha Alexandra namalain Ocha dari Regu C nan menjawab soal dan menyampaikan keberatan menegaskan jawaban awal dirinya telah menyertakan Dewan Perwakilan Daerah. Namun, Dyastasita tidak mengubah keputusannya.

Sementara majelis juri lainnya, ialah Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, Indri Wahyuni justru meminta agar peserta memperjelas artikulasi saat menjawab pertanyaan.

Dari tayangan di Youtube diduga pembina nan mendampingi dari SMAN 1 Pontianak hendak menyampaikan pendapat, namun kemudian disanggah pihak juri.

Sementara itu MC nan mengendalikan jalannya aktivitas itu kemudian meminta semua pihak bersikap sportif menerima nilai dari majelis juri nan sudah berkompetensi, dan menyebut soal 'perasaan' terhadap peserta nan memprotes.

MPR belakangan menyampaikan permintaan maaf soal viral keputusan majelis juri. Wakil Ketua MPR, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, memastikan pihaknya bakal melakukan pertimbangan terhadap keahlian majelis juri dan sistem lomba.

"Kami minta maaf atas kelalaian majelis juri. Kami bakal tindak lanjuti kejadian ini," kata Abcandra dalam keterangannya, Selasa (12/5).

MC kegiatan tersebut pun sudah menyampaikan pernintaan maaf secara tertulis lewat akun Instagramnya.

Baca buletin lengkapnya di sini.

(kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional