Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan Kasat Reserse Narkoba Polres Kutai Barat (Kubar), AKP Deky Jonathan Sasiang dijebloskan ke tahanan setelah rampung diperiksa oleh interogator Dittipidnarkoba Bareskrim Polri.
Deky diketahui tiba di Bareskrim Polri pada Senin (18/5) kemarin untuk diperiksa mengenai tindak pidana pencucian duit dan aliran biaya nan diterima dari jaringan narkoba Ishak dalam upaya membekingi peredaran peralatan haram di Kaltim.
"Untuk tersangka Deky Jonathan Sasiang telah selesai dilakukan pemeriksaan (BAP) pembukaan oleh Tim Penyidik Gabungan Subdit II, Subdit IV dan Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri," kata Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso dalam keterangannya, Selasa (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selanjutnya nan berkepentingan dilakukan Penahanan di Rutan Bareskrim Polri," sambungnya.
Sebelumnya, AKP Deky ditangkap lantaran diduga terlibat dalam jaringan narkoba di wilayah Kutai Barat jaringan narkoba di wilayah Kutai Barat dengan bandar narkoba Ishak.
Selain Deky, polisi juga menangkap Mery Christine Kiling (26) nan berkedudukan sebagai bendaharawan alias pemegang finansial jaringan bandar narkoba Ishak. Mery ditangkap berbareng Marselus Vernandus (42) nan berkedudukan sebagai perantara penghubung Deky dengan Mery.
Berdasarkan hasil interogasi, sekitar Desember 2025, AKP Deky meminta support Marselus untuk dihubungkan kepada Ishak melalui Mery. Deky meminta Ishak memancing seseorang berjulukan Fathur agar menjual 1 kilogram sabu miliknya agar bisa ditangkap sebagai bahan rilis tahunan.
"AKP Deky juga menjanjikan bahwa jika sukses memberikan tangkapan tersebut bakal menjaminkan keamanan jaringan tersangka Ishak untuk beraksi mengedarkan narkoba di wilayah Kutai Barat, Kalimantan Timur," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso.
Sementara Mery nan juga merupakan calon istri bandar Ishak mengakui keterlibatannya dalam membantu operasional upaya haram tersebut. Selain mengelola keuangan, Mery juga bekerja melakukan pengemasan paket sabu seharga Rp300-500 ribu serta mengoperasikan loket jual beli narkoba.
"Loket tersebut adalah tempat workshop milik Marselus nan disewa oleh Tersangka Ishak dengan dalih bakal membuka upaya koperasi simpan pinjam nan rupanya dijadikan loket jual beli narkoba oleh Ishak tanpa sepengetahuan Marselus," tutur Eko.
Mery juga membeberkan kebenaran mengenai aliran biaya kepada AKP Deky guna menjamin keamanan upaya narkoba jaringan Ishak agar tidak diganggu. Dari hasil pendalaman, terjadi beberapa kali pemberian duit tunai sepanjang akhir 2025.
Rinciannya, duit Rp5 juta diserahkan pada sekitar Oktober November 2025 sebagai duit 'pantauan' upaya diserahkan di rumah Deky, duit Rp50 juta diserahkan pada Desember 2025 diserahkan melalui perantara Marselus dengan dalih duit sertijab Deky dan duit Rp15 juta diserahkan pada akhir Desember 2025 untuk keperluan malam tahun baru diserahkan melalui perantara Marselus.
(dis/isn)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·