TKA dan Arah Literasi'

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
TKA dan Arah Literasi' (Dok. Pribadi)

BERBAHASA setiap hari rupanya tidak serta-merta membikin kita ocehan memaknai bahasa. Fakta terungkap dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK dan sederajat nan menunjukkan bahwa mutu pembelajaran Bahasa Indonesia tetap menyisakan pekerjaan besar. Dalam bentang nilai 0–100, mata pelajaran Bahasa Indonesia mencatatkan rerata nan ‘rata-rata’.

Ironis di tengah praktik berkata nan berjalan setiap hari. Padahal, pendidikan semestinya menjadi proses pembebasan kesadaran nan mengangkat peserta didik dari ‘keacuhan magis’ menuju ‘kesadaran kritis’ (Freire, 1970).

Hasil TKA itu patut dibaca sebagai sirine pendidikan. Pembelajaran bahasa bukan semata perihal penguasaan bentuk, tetapi lebih jauh lagi merupakan keahlian berakal dan memaknai teks. Restrukturisasi praktik pembelajaran di kelas hingga arah kebijakan tidak bisa ditunda agar perspektif TKA sebagai ritual pertimbangan nomor tahunan dapat dimitigasi.

IRONI TKA

Rilis info TKA 2025 oleh Kemendikdasmen menyodorkan kebenaran nan patut direnungkan. Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat rerata 65,89, melampaui Jakarta nan berada di nomor 63,39. Padahal, jika ditilik secara kasatmata, anak-anak Jakarta hidup dalam lingkungan nan nyaris sepenuhnya berkata Indonesia. Sementara itu, anak-anak Yogyakarta sejak mini justru berkawan dengan bahasa Jawa dalam keseharian mereka.

Faktanya, kedekatan dengan bahasa tidak serta-merta berbanding lurus dengan kecakapan memahami teks. Frekuensi penggunaan rupanya bukan penentu utama. Barangkali, persoalannya bukan pada bahasa apa nan dipakai, melainkan pada gimana bahasa itu diajarkan dan dihidupi. Bahasa nan dipakai tanpa diolah tidak bakal tumbuh menjadi daya nalar.

Jurang ketimpangan makin tampak ketika peta hasil TKA dibaca dari wilayah barat ke timur. Di area timur Indonesia, nilai tertinggi Bahasa Indonesia dicapai Papua Barat Daya dengan rerata 52,19. Sebaliknya, nan terendah adalah Papua Pegunungan, berada di nomor 44,26. Bandingkan dengan wilayah barat. Kepulauan Riau mencatat rerata tertinggi 58,07, sedangkan Sumut, nan terendah di area ini, tetap berada di nomor 53,19. Dengan kata lain, nilai terendah di barat justru lebih tinggi sekitar 8,93 poin jika dibandingkan dengan nilai terendah di timur, alias selisih sekitar 20,2%. Artinya, wilayah timur tetap tertinggal.

PENDIDIKAN BANKING SYSTEM

Pembelajaran konvensional tetap dominan di ruang-ruang kelas. Pembelajaran tetap menempatkan peserta didik secara pasif. Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu nan sudah jadi untuk ‘disetor’ oleh pembimbing dan ‘ditampung’ oleh peserta didik.

Dalam praktik pembelajaran, materi disajikan melalui lembar kerja siswa nan menuntut jawaban singkat dan seragam. Guru menyampaikan pokok bahasan, peserta didik mencatat, lampau mengerjakan soal dengan rujukan tunggal pada kitab teks. Pola ini justru mereduksi ruang untuk bertanya dan berbincang serta menuntut ketuntasan materi semata.

Praktik-praktik itu menunjukkan bahasa diperlakukan sebagai objek nan kudu dikuasai, bukan sebagai perangkat untuk berpikir dan memahami pengalaman. Akibatnya, keahlian mengulang info lebih menonjol daripada kecakapan memaknai teks. Formula semacam ini dikenal sebagai banking system pendidikan (Paul Freira, 1970). Guru berkedudukan sentral sebagai penyetor pengetahuan, sementara peserta didik diposisikan sebagai wadah kosong. Formula pembelajaran satu arah nan telah mengakar di sebagian besar kelas kita.

Dampaknya tecermin dalam capaian TKA. Peserta didik mungkin terbiasa menggunakan bahasa lisan, tetapi kesulitan menalar isi referensi dan menyimpulkan gagasan. Selama pembelajaran tetap bertumpu pada hafalan, pertimbangan apa pun berisiko hanya merekam persoalan nan sama.

LISAN DAN TULISAN

Perbedaan antara keahlian berkata lisan dan tulisan peserta didik juga memengaruhi capaian TKA. Penggunaan bahasa vernakular kerap disamakan dengan penguasaan bahasa secara utuh, padahal kelancaran berkata tidak selalu berbanding lurus kecakapan membaca teks akademik.

Penggunaan bahasa lisan nan dituliskan sering terjadi pada postingan di medsos. Sayangnya, kesadaran untuk beranjak ke bahasa baku pada konteks akademik dan resmi minim sehingga menganggap keduanya serupa.

Perbedaan ini berkelindan pula dengan tradisi berkata di Indonesia. Di wilayah barat, literasi relatif lebih mengakar melalui kebiasaan membaca dan menulis. Sebaliknya, di sejumlah wilayah timur, tradisi lisan tumbuh lebih kuat sebagai medium utama transmisi pengetahuan.

Perbedaan ekologi bahasa ini menciptakan ketimpangan nilai TKA. Peserta didik di wilayah barat bakal lebih dominan mudah menyelesaikan soal-soal akademik daripada peserta di wilayah timur. Persoalan ini tidak dapat dibaca secara sederhana sebagai perbedaan mutu pendidikan semata. TKA lebih banyak merekam kecakapan berkata tulis dalam kerangka sekolah formal, sementara potensi logika lisan dan kecakapan berkomunikasi dalam tradisi oral belum memperoleh ruang nan memadai.

Parahnya lagi, pembelajaran bahasa tetap menitikberatkan mahfuz kaidah. Kelisanan belum dimanfaatkan sebagai jembatan menuju literasi tulis, sementara membaca dan menulis diperlakukan sebagai keahlian teknis. Akibatnya, peserta didik nan kaya pendapat dan fasih berkata justru kesulitan menuangkannya dalam teks tertulis.

Oleh lantaran itu, pembenahan pembelajaran bahasa tidak cukup dengan memperbaiki soal alias meningkatkan standar penilaian. nan lebih mendasar, membangun pembelajaran nan mengintegrasikan keahlian lisan dan tulisan secara seimbang.

KOLABORASI BERSAMA

Capaian TKA Bahasa Indonesia tidak semestinya menyeret kita pada gairah mengambinghitamkan siapa pun. Angka-angka itu bukan vonis akhir, melainkan potret dari kebijakan, praktik pembelajaran, dan budaya akademik nan saling terkait.

Pembenahan mutu bahasa menuntut kerja berbareng nan melibatkan catur pusat pendidikan: keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Bahasa tumbuh di rumah, diasah di sekolah, diuji di ruang sosial, dan diarahkan oleh kebijakan. Tanpa kerja kolektif, pembelajaran bahasa mudah kehilangan daya hidupnya.

Kemendikdasmen sebagai penyedia TKA mempunyai instrumen komplit untuk pembenahan nilai TKA Bahasa Indonesia. Unit utama nan paling strategis adalah Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), nan berkuasa merumuskan standar kompetensi, menyusun kerangka asesmen, serta memastikan keselarasan antara tujuan pembelajaran dan instrumen evaluasi.

Melalui BSKAP, pembenahan dapat diarahkan pada penajaman konstruk TKA Bahasa Indonesia agar tidak semata mengukur kecakapan teknis membaca, tetapi juga keahlian bernalar, memahami makna, dan mengolah pendapat dalam beragam corak teks.

Selain itu, Ditjen PAUD Dikdasmen memegang peran krusial dalam aspek penerapan pembelajaran di satuan pendidikan. Ditjen ini dapat mendorong penguatan praktik literasi di kelas melalui kebijakan pembelajaran bahasa nan lebih kontekstual, termasuk pemanfaatan kelisanan sebagai jembatan menuju literasi tulis.

Di sisi lain, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mempunyai mandat langsung dalam pembinaan Bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar, peningkatan kompetensi pembimbing bahasa, serta penguatan literasi berbasis kebahasaan dan kesastraan.

Sinergi ketiga unit utama ini menjadi kunci agar pembenahan nilai TKA Bahasa Indonesia tidak berakhir pada perbaikan instrumen tes, tetapi menyentuh ekosistem pembelajaran bahasa secara utuh dan berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia