Upaya pemadaman Kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau tahun 2015.(Dok. MI)
PERISTIWA kebakaran rimba dan lahan (karhutla) tahun 2015 menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah lingkungan Indonesia. Dipicu oleh kejadian El Nino kuat alias "Godzilla El Nino", kekeringan ekstrem saat itu mengakibatkan eskalasi titik api nan susah dikendalikan di beragam wilayah.
Kombinasi antara anomali cuaca dan kondisi lahan gambut nan mengering menciptakan kebakaran masif nan dampaknya dirasakan hingga ke negara tetangga. Peristiwa ini memicu darurat kesehatan dan kerugian ekonomi nan sangat signifikan bagi Indonesia.
Luasan Lahan dan Sebaran Wilayah Karhutla 2015
Berdasarkan info nan dihimpun dari beragam otoritas lingkungan, berikut adalah rincian luasan lahan nan terdampak pada periode tersebut:
| Total Luas Terbakar | Sekitar 2,6 Juta Hektare (setara 4,5 kali luas Pulau Bali). |
| Komposisi Lahan | Didominasi lahan gambut nan menghasilkan emisi karbon tinggi dan asap pekat. |
| Wilayah Terparah | Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua. |
Dampak Multisektoral Karhutla 2015
Dampak nan ditimbulkan tidak hanya terbatas pada kerusakan ekosistem, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi:
- Kesehatan: Lebih dari 500.000 orang dilaporkan menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.
- Ekonomi: Bank Dunia mengestimasi kerugian ekonomi Indonesia mencapai lebih dari Mata Uang Rupiah 221 triliun, mencakup kerusakan aset, gangguan transportasi udara, dan penurunan produktivitas.
- Lingkungan: Pelepasan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar nan sempat menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi harian terbesar di bumi pada puncak kebakaran.
Tragedi 2015 ini menjadi titik kembali bagi Pemerintah Indonesia untuk memperketat izin perlindungan gambut dan membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) guna mencegah terulangnya musibah serupa di masa depan. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·