Presiden AS Donald Trump menakut-nakuti bakal melancarkan serangan baru terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan jika pembicaraan tenteram tidak mencapai kesepakatan.(White House)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas meski jalur diplomasi tengah dilakukan. Presiden AS Donald Trump menakut-nakuti bakal melancarkan serangan baru terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan jika pembicaraan tenteram kandas mencapai kesepakatan.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih, Selasa (19/5) waktu setempat alias Rabu (20/5) WIB. Trump menyatakan sempat menahan operasi militer besar terhadap Iran demi memberi ruang negosiasi.
“Saya hanya berjarak satu jam dari perintah serangan besar. Tetapi saya menundanya,” kata Trump.
Menurut Trump, Iran sekarang berada dalam posisi tertekan dan mulai menunjukkan kemauan untuk mencapai kesepakatan tenteram dengan Washington. Meski demikian, Trump belum menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer lagi.
“Anda tahu gimana rasanya bermusyawarah dengan negara nan sedang Anda kalahkan. Mereka datang ke meja perundingan dan memohon untuk membikin kesepakatan,” ujarnya.
“Saya berambisi kita tidak perlu perang. Tetapi mungkin kami kudu memberi mereka pukulan besar lagi. Saya belum yakin,” kata Trump.
Kemampuan Tempur
Ucapan Trump langsung dibalas keras oleh Teheran. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, memperingatkan negaranya siap membuka front baru jika Amerika kembali menyerang. Iran menyebut memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat keahlian tempur mereka.
“Kami bakal membuka front-front baru melawan Amerika Serikat jika serangan kembali dilakukan,” ujar Akraminia.
Ketegangan kedua negara memang belum betul-betul mereda meski gencatan senjata telah berjalan sejak April lalu. Iran juga menyatakan mulai mendapat untung strategis dari perang tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi apalagi menyebut militer negaranya sukses menjatuhkan jet tempur siluman F-35 milik AS untuk pertama kalinya.
“Jika perang kembali terjadi, bakal ada lebih banyak kejutan,” kata Araghchi.
Adapun Trump memberi tenggat waktu beberapa hari untuk menentukan arah negosiasi. Dia menyebut keputusan soal kemungkinan serangan baru bisa diambil akhir pekan ini alias awal pekan depan.
“Saya bicara soal dua alias tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, alias awal pekan depan,” kata Trump.
Berharap Solusi Diplomatik
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Washington tetap berambisi solusi diplomatik dapat tercapai. Menurutnya, komunikasi dengan Iran tetap melangkah positif.
“Banyak kemajuan positif sedang terjadi. Kami bakal terus bekerja sampai tercapai kesepakatan alias tidak sama sekali,” ujar Vance.
Perang nan berkepanjangan mulai memberi tekanan politik bagi Trump di dalam negeri. Harga bahan bakar di AS melonjak akibat ketidakstabilan area Teluk sedangkan publik mulai menunjukkan kejenuhan terhadap bentrok tersebut menjelang pemilu kongres November mendatang.
Sementara itu, Iran tetap memasang sejumlah syarat dalam negosiasi, mulai dari pencabutan hukuman ekonomi, pembebasan aset Iran nan dibekukan di luar negeri, hingga tuntutan kompensasi perang. (AFP/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·