Trump Murka, Selat Hormuz Kembali Ditutup usai Israel Bombardir Libanon

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Trump Murka, Selat Hormuz Kembali Ditutup usai Israel Bombardir Libanon Ilustrasi(Dok AFP)

KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Selat Hormuz kembali ditutup, hanya beberapa jam setelah sebelumnya dijanjikan bakal dibuka. Penutupan ini dipicu oleh serangan udara besar-besaran Israel ke Libanon nan memperburuk situasi gencatan senjata rentan antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunjukkan kemarahan atas perkembangan tersebut dan menegaskan bahwa jalur vital daya bumi itu kudu tetap terbuka.


Serangan Israel ke Libanon Jadi Pemicu

Serangan Israel nan menghantam wilayah Libanon, termasuk Beirut, menewaskan ratusan orang dan memicu reaksi keras dari Iran.

Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata, meskipun pihak AS dan Israel menyatakan bahwa Libanon tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.

Akibatnya, Iran kembali membatasi apalagi menutup lampau lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur nan mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.


Pernyataan Resmi Gedung Putih

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan sikap keras pemerintah AS terhadap situasi ini.

Ia menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah tidak dapat diterima.

Leavitt juga menambahkan bahwa Presiden Trump menuntut agar jalur tersebut dibuka kembali secepatnya dan aman.


Dampak Global: Minyak & Stabilitas Terancam

Penutupan Selat Hormuz berakibat besar terhadap perdagangan daya global. Sejumlah kapal tanker tertahan dan lampau lintas pelayaran terganggu signifikan.

Selain itu, Iran dilaporkan sempat memberlakukan pembatasan ketat apalagi ancaman terhadap kapal nan melintas tanpa izin, memperparah kekhawatiran pasar global.


Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Situasi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata antara AS, Iran, dan Israel berada di periode kehancuran. Perbedaan interpretasi mengenai cakupan wilayah, terutama Libanon menjadi sumber utama bentrok baru.

Meski perundingan tenteram direncanakan berjalan di Islamabad, ketegangan militer di area tetap tinggi dan berpotensi memicu eskalasi lebih luas. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia