Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf(Media Sosial X)
KETEGANGAN antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan Teheran siap memberikan respons keras terhadap setiap corak agresi, menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump atas proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang.
"Angkatan bersenjata kami siap memberikan pelajaran nan tak terlupakan kepada setiap agresi," tulis Qalibaf dalam unggahannya di platform X dilansir Anadolu, Selasa (12/5).
Ia menegaskan Iran telah menyiapkan beragam opsi menghadapi perkembangan situasi dan memperingatkan pihak musuh bakal terkejut.
Dalam pernyataan terpisah, Qalibaf menekankan tidak ada pengganti lain selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana tertuang dalam proposal 14 poin nan diajukan Teheran.
"Tidak ada alternatif, selain menerima hak-hak rakyat Iran," tulisnya.
Ia menambahkan pendekatan di luar itu hanya bakal berujung pada kegagalan.
"Pendekatan lain bakal sepenuhnya tidak menghasilkan apa-apa, hanya kegagalan demi kegagalan," ujarnya.
Qalibaf juga menyinggung akibat ekonomi dari kebuntuan diplomatik tersebut bagi Washington.
"Semakin lama mereka mengulur waktu, semakin banyak duit pajak Amerika nan bakal menanggungnya," tambahnya.
Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkritik langkah nan dipimpin Amerika Serikat mengenai rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Selat Hormuz.
Melalui unggahan di X, Gharibabadi menilai upaya AS berbareng sejumlah mitra regional bermaksud mendistorsi realitas mengenai situasi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Ia menegaskan bahwa kebebasan navigasi tidak dapat ditafsirkan secara selektif maupun dipisahkan dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurutnya, setiap inisiatif keamanan maritim nan mengabaikan penggunaan kekuatan, blokade angkatan laut, dan ancaman berkepanjangan terhadap Iran tidak bakal mempunyai netralitas maupun kredibilitas.
Gharibabadi juga menegaskan proposal apa pun mengenai Selat Hormuz nan tidak mengakui agresi serta kewenangan sah Iran untuk mempertahankan kepentingan keamanannya bakal menjadi usulan nan bias, politis, dan pasti gagal.
Peringatan tersebut muncul setelah Trump menolak tanggapan terbaru Iran terhadap proposal perdamaian nan diajukan Washington.
Trump menyebut respons Teheran sebagai perihal sama sekali tidak dapat diterima.
Sejumlah pejabat dan media Iran menyebut proposal Teheran difokuskan pada penghentian perang, pencabutan hukuman ekonomi, serta pemulihan keamanan maritim di Selat Hormuz.
Konflik antara kedua negara memanas sejak 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, nan kemudian dibalas Teheran melalui serangan terhadap Israel dan sekutu Washington di area Teluk, disertai penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai bertindak pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan nan berjalan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen, sementara gencatan senjata diperpanjang oleh Trump tanpa pemisah waktu nan ditentukan. (Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·