Trump Setujui Gencatan Senjata dengan Iran, Harga Minyak Dunia Anjlok

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Trump Setujui Gencatan Senjata dengan Iran, Harga Minyak Dunia Anjlok Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Selasa (7/4) bahwa dia menyetujui gencatan senjata dua sisi dengan Iran. Pernyataannya ini kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu nan dia tetapkan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan AS alias menghadapi serangan besar-besaran terhadap pembangkit listriknya.

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," tulis presiden di Truth Social.

Ia mengatakan gencatan senjata nan disetujuinya atas permintaan Pakistan, "Tergantung pada persetujuan Republik Islam Iran untuk PEMBUKAAN LENGKAP, SEGERA, dan AMAN Selat Hormuz."

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa Iran setuju menghentikan operasi pertahanan, kemungkinan merujuk pada serangan drone dan rudal terhadap sekutu AS di area itu, jika AS berakhir menyerang Iran. Araghchi juga mengatakan angkatan bersenjata Iran bakal berkoordinasi untuk memungkinkan jalur kondusif melalui Selat Hormuz.

Israel juga tmenyetujui usulan gencatan senjata tersebut, kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CBS News. Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang berbareng dengan Iran, menyerang ribuan sasaran di negara itu pada 28 Februari. Iran membalas dengan serangan terhadap Israel dan beberapa negara sekutu AS di wilayah Teluk.

Harga minyak berjangka ambruk setelah buletin gencatan senjata. Patokan minyak AS, West Texas Intermediate, turun lebih dari 13% menjadi di bawah US$92 per barel dalam satu jam setelah pengumuman Trump. 

Harga minyak meroket sejak perang dimulai hingga mencapai level tertinggi nan belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, lantaran pengiriman sebagian besar terputus melalui Selat Hormuz, jalur sempit nan biasanya membawa seperlima minyak dunia. Harga Selasa itu tetap tetap di atas level sebelum perang.

Gencatan senjata tersebut menyusul upaya diplomatik nan gencar oleh AS, Iran, dan mediator pihak ketiga seperti Pakistan untuk menghindari eskalasi besar dalam perang nan berjalan nyaris enam minggu. Pada akhir pekan, Presiden Trump menuntut agar Iran mencapai kesepakatan nan dapat diterima dan membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa pukul 20.00 Waktu setempat. Jika Iran tidak mematuhi, presiden berjanji bakal menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan negara tersebut.

Ancamannya semakin tajam dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya pada Selasa, dia menulis di Truth Social, "Seluruh peradaban bakal meninggal malam ini dan tidak bakal pernah bisa dihidupkan kembali."

AS dan Iran tampaknya belum mencapai kesepakatan jangka panjang formal. Namun, Presiden Trump menulis dalam pesannya nan mengumumkan gencatan senjata bahwa AS sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran.

Presiden mengatakan Iran mengirimkan rencana perdamaian 10 poin kepada AS nan merupakan dasar nan dapat diterapkan untuk bernegosiasi. Sehari sebelumnya, Iran menolak proposal 15 poin nan ditawarkan oleh para negosiator Amerika.

"Hampir semua poin perselisihan di masa lampau telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi periode dua minggu bakal memungkinkan perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan," tulis Trump.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan negosiasi antara kedua pihak bakal dimulai di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Jumat (10/4) dan berjalan selama dua minggu dengan ketidakpercayaan sepenuhnya terhadap pihak AS. Iran mengatakan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, "Kami bakal terus berjuang berdampingan di medan perang sampai semua tuntutan rakyat Iran terpenuhi."

Perbedaan besar antara kedua pihak tampaknya tetap ada. Dalam pernyataannya, Iran mengatakan rencana 10 poin tersebut menyerukan agar AS menarik pasukan dari semua pangkalan di wilayah tersebut, memberikan kompensasi penuh kepada Iran, mencabut semua sanksi, dan memberikan kendali kepada angkatan bersenjata Iran atas Selat Hormuz. Propaganda itu juga menyerukan diakhiri permusuhan terhadap Poros Perlawanan, istilah Iran untuk golongan proksi regional seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.

Tidak jelas apakah Trump bakal menerima banyak tuntutan tersebut sebagai perubahan signifikan pada strategi AS di Timur Tengah. Presiden tampaknya menolak pendapat untuk mengizinkan Iran mengendalikan Selat Hormuz dan memungut bea dari kapal-kapal nan berlayar melaluinya pada Senin. Katanya, kepada wartawan bahwa, jika ada, AS nan semestinya memungut bea tersebut.

Yang juga tidak jelas, keadaan pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Ketika Trump melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, dia mengatakan salah satu tujuan utamanya memastikan bahwa Iran tidak bakal pernah dapat membangun senjata nuklir. Presiden secara terbuka menyerukan agar Iran menghentikan semua pengayaan uranium.

Iran bersikeras bahwa program nuklirnya sepenuhnya damai. Badan intelijen AS menilai musim semi lampau bahwa Iran tidak sedang dalam proses membangun senjata nuklir. 

Namun, negara itu mengatakan tidak bakal berakhir memperkaya uranium dan persediaan material nan sangat diperkaya--hanya selangkah lagi dari uranium tingkat senjata--tetap ada di Iran, sebagian besar terkubur di bawah reruntuhan dari serangan AS sebelumnya pada Juni lalu. (CBS/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia