Trump Tunda Serangan ke Iran Dua Pekan, Ada Kesepakatan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Trump Tunda Serangan ke Iran Dua Pekan, Ada Kesepakatan Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk menangguhkan rencana serangan militer terhadap Iran selama dua minggu, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu nan dia tetapkan sendiri. 

Keputusan itu diambil setelah Trump melontarkan ancaman keras bahwa seluruh peradaban bakal meninggal malam ini jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington.

Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, sekitar satu separuh jam sebelum pemisah waktu serangan. 

Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa keputusan itu diambil setelah komunikasi dengan pihak Pakistan nan berkedudukan sebagai mediator.

Ia menyebut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir meminta dirinya untuk menahan rencana serangan tersebut. 

Namun, penangguhan itu disertai syarat, ialah Iran kudu segera membuka kembali Selat Hormuz.

"Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, dari Pakistan, mereka meminta saya untuk menahan kekuatan destruktif nan dikirim malam ini ke Iran dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan lengkap, segera, dan kondusif Selat Hormuz. Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," tulis Trump dilansir Al Jazeera, Rabu (8/4).

Tak lama setelah pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengonfirmasi ada kesepakatan sementara. Ia menyatakan bahwa Iran bersedia menghentikan operasi militernya jika serangan terhadap negaranya dihentikan.

"Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kita nan Perkasa bakal menghentikan operasi pertahanan mereka," tulis Araghchi.

Ia juga menambahkan bahwa selama dua minggu ke depan, jalur kondusif di Selat Hormuz dapat dibuka melalui koordinasi dengan militer Iran. 

Selain itu, Araghchi menyampaikan apresiasi kepada Pakistan atas upaya mediasi di menit-menit terakhir. Pembicaraan lanjutan antara pihak mengenai direncanakan berjalan di Islamabad dalam waktu dekat.

Sebelumnya, ketegangan meningkat tajam menjelang tenggat waktu serangan. Trump sempat mengunggah pernyataan bersuara ancaman pada pagi hari, nan memicu kekhawatiran global.

"Seluruh peradaban bakal meninggal malam ini, tidak bakal pernah bisa dihidupkan kembali," tulis Trump. 

"Saya tidak mau itu terjadi, tetapi mungkin bakal terjadi," lanjutnya.

Ia juga menyebut momen tersebut sebagai salah satu momen terpenting dalam sejarah bumi nan panjang dan kompleks.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump kembali mengeklaim keberhasilan strategi militer AS dan menyebut Iran telah mengusulkan proposal gencatan senjata nan dapat diterima.

"Ini bakal menjadi gencatan senjata dua sisi," tulisnya.

"Alasan kami melakukan perihal itu lantaran kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer serta mencapai kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran juga perdamaian di Timur Tengah. Kami menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya bahwa itu adalah dasar nan dapat diterapkan untuk bernegosiasi," sebutnya.

Trump menegaskan bahwa dua minggu ke depan bakal dimanfaatkan untuk merampungkan kesepakatan damai. Ia apalagi menyatakan optimisme bahwa sebagian besar perbedaan antara kedua negara telah terselesaikan.

"Hampir semua poin perselisihan di masa lampau telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran," katanya. 

"Merupakan suatu kehormatan untuk memandang masalah jangka panjang ini nyaris terselesaikan," tambahnya.

Di sisi lain, pengumuman tersebut disambut beragam. Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid, menilai keputusan itu dapat meredakan ketegangan di area Timur Tengah nan sebelumnya berada di periode eskalasi besar.

"Itu bakal menjadi kelegaan besar secara kolektif dari area ini dan sekitarnya, lantaran alternatifnya sangat mengerikan," ujarnya.

"Tingkat kekhawatiran di sekitar area ini luar biasa dan Donald Trump adalah satu-satunya orang nan dapat meredakannya, lantaran dialah nan pertama kali menyulut api," jelasnya.

Namun di Teheran, respons masyarakat condong skeptis. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah penangguhan tersebut berfaedah penghentian bentrok secara keseluruhan alias hanya penundaan serangan tertentu.

"Tidak jelas, setidaknya bagi saya, apakah dia menangguhkan sepenuhnya nan sudah terjadi sejak awal perang alias dia memperpanjang tenggat waktu untuk penghancuran pembangkit listrik secara total," kata koresponden Al Jazeera Mohamed Vall.

Konflik antara AS-Israel dan Iran berjalan lebih dari lima minggu sejak dimulai serangan militer campuran pada 28 Februari. 

Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi tersebut bermaksud menghilangkan ancaman Iran serta mencegah pengembangan senjata nuklir.

Namun, sejumlah master norma internasional menilai tindakan tersebut sebagai serangan tanpa provokasi nan melanggar norma internasional.

Sejak pecahnya konflik, korban jiwa terus bertambah. Tercatat nyaris 2.076 orang tewas di Iran, sementara 28 orang meninggal di negara-negara Teluk. 

Di pihak lain, Amerika Serikat kehilangan 13 personel militernya dan 26 korban jiwa dilaporkan di Israel. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia