Virus Hanta Ngamuk! AS Selidiki 120 Lebih Laboratorium Biologi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

loading...

Virus Hanta merebak di beberapa negara. FOTO/ The Guardian

TOKYO - AS sedang menyelidiki lebih dari 120 laboratorium biologi nan didanai luar negeri, dengan tujuan mengakhiri penelitian berisiko tinggi nan mengenai dengan penyebaran virus rawan seperti hanta.

Direktur Intelijen Nasional AS (DNI) Tulsi Gabbard mengkonfirmasi pada 11 Mei bahwa pemerintah sedang menyelidiki lebih dari 120 laboratorium biologi di luar negeri nan didanai oleh Washington selama beberapa dekade, sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri penelitian berisiko tinggi nan mengenai dengan penyebaran virus berbahaya.

Investigasi tersebut dilakukan berasas perintah pelaksana dari Presiden AS Donald Trump mengenai penelitian "peningkatan fungsi", nan membawa akibat signifikan mengarah pada "penelitian penggunaan dobel mengenai studi" (DURC), nan berpotensi menciptakan patogen rawan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Ibu Gabbard mengatakan tim DNI sedang mengidentifikasi letak laboratorium-laboratorium ini, patogen apa nan mereka miliki, dan jenis penelitian apa nan mereka lakukan untuk mengakhiri penelitian "peningkatan fungsi" rawan nan menakut-nakuti kesehatan dan nyawa penduduk Amerika dan orang-orang di seluruhdunia.

Menurut Gabbard, pandemi COVID-19 menunjukkan akibat dunia nan menghancurkan nan dapat ditimbulkan oleh penelitian tentang patogen rawan di laboratorium biologi, dan dia menuduhpemerintahansebelumnya menyembunyikan dari rakyat Amerika keberadaan laboratorium biologi nan didanai dan didukung oleh negara, apalagi menakut-nakuti mereka nan mencoba mengungkap kebenaran.

Secara spesifik, organisasi intelijen AS bakal meninjau aktivitas penelitian di semua laboratorium biologi nan didanai AS, termasuk akomodasi nan melakukan penelitian "peningkatan" nan dapat meningkatkan penularan virus, serta penelitian tentang pencegahan dan pengendalian patogen berbahaya.

Para pejabat dari Kantor Direktur Intelijen Nasional AS (ODNI) mengungkapkan bahwa laboratorium biologi ini tersebar di lebih dari 30 negara, banyak di antaranya menerima biaya melalui program Departemen Perang AS untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (WMD) setelah Perang Dingin. Dari jumlah tersebut, lebih dari 40 laboratorium biologi nan sedang diselidiki berlokasi di Ukraina dan mungkin berisiko mengalami penyelundupan lantaran bentrok dengan Rusia.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews