
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo (Foto: Puteranegara/Okezone)
JAKARTA - Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menegaskan ancaman terorisme dan ekstremisme saat ini telah mengalami perubahan mendasar, dari pola terstruktur menuju jejaring digital nan lebih cair, adaptif, dan susah dikenali dengan pendekatan konvensional.
Dalam arahannya, Dedi menyebut seluruh strategi penanganan terorisme kudu berpijak pada Grand Strategy Polri 2025–2045 dan selaras dengan Renstra Polri 2025–2029 guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan kebijakan menghadapi tantangan masa depan.
“Kita sedang menghadapi perubahan besar. Ancaman tidak lagi selalu datang dalam corak organisasi besar nan mudah dipetakan, tetapi berkembang melalui ruang digital, simpatisan lepas, hingga jejaring nan dibentuk oleh algoritma. Karena itu, strategi kita juga kudu berubah,” kata Dedi dalam rangkaian Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri, Rabu (20/5/2026).
Menurut Dedi, ekstremisme modern sekarang semakin terfragmentasi, bergerak melalui perseorangan alias golongan mini tanpa struktur formal, namun terkonsolidasi melalui paparan digital dan lingkungan sosial.
Ia menjelaskan ideologi pelaku tidak lagi selalu datang sebagai doktrin tunggal nan utuh, tetapi berupa bagian ideologi nan bercampur sesuai kebutuhan psikologis dan sosial individu. Karena itu, pendekatan lama dalam memahami ekstremisme perlu dilengkapi dengan perspektif baru seperti Composite Violent Extremism (CoVE) untuk membaca ancaman nan ambigu dan konvergen.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin news lainnya
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·