Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus berharap pembahasan mengenai teknologi pemilu berbasis digital tidak berakhir pada tataran konsep, tetapi dapat dipelajari dan diuji secara langsung.
Hal ini disampaikan Wiyagus dalam Peresmian Digital Election Simulation Lab (DESLab) Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) di Ruang Command Center BSKDN Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Kamis (7/5).
Dalam keterana tertulis Kemendagri, Wiyagus mengatakan keberadaan akomodasi simulasi pemilihan digital tidak boleh hanya berfaedah sebagai tempat memamerkan teknologi E-Voting. Menurutnya, akomodasi tersebut kudu berkembang menjadi pusat pengembangan pengetahuan sekaligus perumusan rekomendasi kebijakan mengenai tata kelola pemilu digital di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"DESLab BSKDN tidak boleh hanya menjadi ruang display perangkat E-Voting, namun DESLab BSKDN kudu menjadi ruang produksi pengetahuan dan rekomendasi kebijakan," kata Wiyagus.
Laboratorium tersebut menurutnya memungkinkan aparatur pemerintah, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat, hingga beragam pemangku kepentingan untuk menyimulasikan proses E-Voting secara menyeluruh.
Proses tersebut meliputi verifikasi pemilih, penerapan prinsip one man one vote, penghitungan suara, hingga sistem audit.
Ia melanjutkan berasas info PT Inti Konten Indonesia, sistem E-Voting telah digunakan di 1.910 desa pada 16 provinsi sejak 2013 tanpa hambatan berarti. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal krusial bagi Kemendagri dalam memetakan manfaat, tantangan, dan tata kelola penerapan E-Voting secara lebih luas.
Wiyagus mengaku Indonesia perlu belajar dari keberhasilan negara seperti Brasil dalam percepatan rekapitulasi suara, Estonia dengan sistem internet voting, serta Amerika Serikat nan menerapkan audit surat suara. Pengalaman negara seperti Jerman, Belanda, Irlandia, dan Norwegia juga menjadi pembelajaran krusial mengenai tantangan keamanan sistem dan kepercayaan publik.
"Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa E-Voting bukan semata soal kecepatan dan efisiensi, tetapi kudu ditopang oleh regulasi, keamanan, audit, literasi pemilih, dan kepercayaan publik nan kuat," ujar Wiyagus.
Wiyagus menilai kehadiran DESLab menjadi langkah strategis bagi Kemendagri dalam menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan modern nan semakin dipengaruhi rumor digitalisasi, kepintaran buatan, dan keamanan siber. Ia berambisi akomodasi ini bisa memperkuat objektivitas dalam mengkaji akibat kebijakan dan menjadi sarana pembelajaran mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi.
"DESLab BSKDN adalah pesan bahwa Kemendagri siap beradaptasi dan siap menyiapkan kebijakan pemerintahan dalam negeri nan relevan dengan perkembangan zaman," kata Wiyagus.
(tim/sur)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·