Sinagog di Iran hancur akibat serangan Israel.(Al Jazeera)
SEJUMLAH penduduk Iran membentuk perisai manusia di sekitar akomodasi pembangkit listrik sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai eskalasi bentrok nan tengah berlangsung.
Laporan dari instansi buletin Fars, nan berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran, menampilkan rekaman video di media sosial nan memperlihatkan ratusan penduduk berkumpul di depan pembangkit listrik siklus campuran di Kazerun.
Dalam unggahan tersebut, tindakan itu disebut sebagai rantai manusia di depan pembangkit listrik siklus campuran Kazerun.
Video nan kemudian diverifikasi oleh CBS News Confirmed menunjukkan penduduk sipil berdiri berjejer di sekitar akomodasi tersebut.
Aksi itu disebut sebagai respons atas seruan seorang pejabat Iran nan meminta masyarakat untuk bertindak sebagai pelindung akomodasi vital negara. Dalam rekaman tersebut, sebagian penduduk terlihat membawa dan mengibarkan bendera Iran di lokasi.
Pembangkit listrik Kazerun diketahui merupakan akomodasi berbahan bakar gas alam nan terletak di Provinsi Fars, Iran bagian barat daya, tidak jauh dari area Teluk Persia.
Ketegangan di area meningkat sejak pecahnya bentrok antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, jumlah korban tewas di Iran akibat serangan campuran AS-Israel telah mencapai sedikitnya 2.076 orang hingga saat ini.
Iran kemudian melancarkan serangan jawaban nan menargetkan wilayah Israel serta akomodasi militer AS di sejumlah negara Teluk.
Dalam serangan tersebut, dilaporkan 13 personel militer AS tewas dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, di pihak Israel tercatat 26 korban jiwa dan lebih dari 7.000 orang terluka. Korban juga dilaporkan jatuh di beberapa negara lain nan terdampak konflik.
Selain tindakan militer langsung, Iran turut menutup Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia, nan berakibat pada lonjakan nilai daya global.
Menanggapi situasi tersebut, Trump meminta support negara-negara lain untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, meskipun dia menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan. Namun, permintaan tersebut tidak mendapat respons positif dari sekutu-sekutu AS.
Trump kemudian mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk menyetujui gencatan senjata alias menghadapi serangan besar-besaran nan bakal menyasar pembangkit listrik dan prasarana vital lain.
Ia juga menuntut Iran menghentikan program nuklirnya serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Batas waktu nan ditetapkan Trump jatuh pada Selasa (7/4) pukul 20.00 waktu AS bagian Timur, nan bertepatan dengan Rabu (8/4) awal hari sekitar pukul 03.30 waktu Iran. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·